Ribuan Anak Sumbawa Menulis Surat untuk Presiden RI
LOMBOKita – Produsen alat tulis asli Indonesia, PT Standardpen Industries melanjutkan aksi gerakan #ayomenulis di Indonesia Timur. Setelah Flores, gerakan #ayomenulis dan program Satu Juta Bolpoin untuk Anak Indonesia di Nusa Tenggara Barat (NTB), Standardpen menyambangi siswa-siswi SD Sumbawa, Dompu Tambora dan Kota Bima.
Kegiatan kampanye #ayomenulis yang melibatkan ribuan anak dari belasan Sekolah Dasar ini mengusung tema ‘Menulis Surat untuk Presiden RI’. Di Kabupaten Sumbawa, Kecamatan Empang sedikitnya seribu anak dilatih menulis surat untuk berani bertutur dan mengutarakan gagasan pada sebuah tulisan serta melatih kesabaran. Demikian juga di Tambora, Dompu dan Bima, anak-anak secara bersama-sama menulis surat untuk Presiden RI.
“Kami berharap anak-anak Indonesia, khususnya di Pulau Sumbawa, mulai mengenal kembali menulis dengan tangan, dan menceritakan lingkungan atau tradisi budaya, adat istiadat atau kearifan lokal lainnya atau bahkan pengalaman liburan mereka,” kata Shara Christanti, Public Relations PT Standardpen Industries.
Hasil riset Harvard University, Amerika Serikat menjelaskan ada lima manfaat menulis bagi anak-anak. Mengurangi stres, belajar mengeluarkan pendapat secara bijak, belajar merangkai kata, melatih kesabaran, serta menambah ilmu dan wawasan.
Hari ini, Senin (2/10/2017) ada 20 SD se Kecamatan Empang Sumbawa seribu anak menulis surat. Isinya beragam, ada yang menulis cerita tentang harapan atau cita-citanya, tentang sekolah, tentang keluarganya ada juga yang menyampaikan keinginannya.
Adiansyah Kelas 4 SDN 1 Boal menuliskan harapannya memiliki sepeda baru untuk pergi sekolah. ”Saya ingin sepeda baru, karena sepeda lama saya sudah rusak dan tidak bisa diperbaharui. Kalau saya sudah punya sepeda, saya akan gunakan untuk pergi ke sekolah, untuk mengaji, pergi ke sawah dan juga menggunakan sepeda saya untuk mengambil air minum. Dan saya akan menabung sekuat mungkin untuk membeli sepeda.” tulis Adian dalam suratnya.
Lain dengan surat Aulia Kelas 6 SDN 1 Empang yang mengutarakan harapannya agar Kecamatan Empang menjadi kota yang besar. ”Saya ingin Empang ada sesuatu yang meramaikan seperti membuatkan Universitas di Empang. Dan saya ingin menjadi dokter supaya saya bisa membantu orang tua dan juga orang miskin yang ingin berobat.”
Sementara Aprila Maharani Kelas 5 SDN 1 Empang menuliskan permohonannya agar Sumbawa memiliki TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Sampah. “Supaya lingkungan alam kita tetap terjaga dan tidak terjadi bencana alam seperti banjir atau longsor.”
“Pesan damai serta berbagai cerita tentang kearifan lokal dari perspektif anak-anak ini bisa kita jadikan pembelajaran atau contoh bagi anak-anak di kota lainnya, ” kata Nury Sybli, Pegiat Literasi yang mengawal gerakan #ayomenulis di seluruh Indonesia.
Anak-anak di wilayah kaki gunung Tambora misalnya, rata-rata menyampaikan keinginannya untuk bertemu Bapak Presiden RI Joko Widodo. Iqbal siswa SD Kawinda Nae dalam suratnya dia menanyakan kapan Bapak Presiden datang mengunjungi perkampungan Tambora, Kabupaten Bima. “Bapak Jokowi pernah datang ke Tambora, tapi tidak sampai kampung kami. Kalau Bapak Jokowi datang saya ingin minta dibuatkan lapangan bola yang bagus.”
Dalam gerakan literasi #AyoMenulis di Pulau Sumbawa rata-rata anak-anak merasa antusias meski kemampuan menulis anak berbeda-beda. Di Kota Bima, pada 16 September ada sekitar 11 Sekolah Dasar mengikuti gerakan ini. Secara umum anak-anak bersemangat karena mendapatkan pengalaman baru.
Ahmad, kelas 5 SDN 34 Kota Bima pada suratnya dia menuliskan rasa takutnya terhadap koruptor. ”Saya dari SDN 34 Bonta Kolo, saya merasa takut Bapak Presiden. Begitu banyak sekali para koruptor yang makan uang rakyat. Saya lihat di televisi tentang para koruptor yang makan uang rakyat atau negara. Mohon agar Bapak Presiden menindak para koruptor,” tulis Ahmad dalam suratnya.
Berbeda dengan surat yang dituliskan Rara Rahmania kelas VI A SDN 13 Kota Bima yang meminta bantuan untuk perbaikan lapangan bola di sekolahnya.”Lapangan sepak bola kami tidak layak lagi untuk bermain.”
Sementara M. Febriyansah Putra kelas 4 SDN 13 Kota Bima menceritakan kebahagiannya karena telah menerima Kartu Indonesia Pintar sehingga dapat membeli seragam sekolah. ”Saya dulu memakai sepatu compang camping, kini seragam saya tidak ada lagi yang compang camping. Terima kasih Bapak Presiden yang telah memberi Kartu Indonesia Pintar (KIP).”
Kegiatan menulis surat untuk Presiden ini diharapkan menjadi pengalaman yang bernilai dan menjadi tradisi bagi anak-anak dalam menulis dengan tangan. “Menulis itu tiga kali membaca. Jadi selain membantu agar anak lebih kreatif, juga mengasah kinerja otak karena dia harus mengingat kembali apa yang ada dalam pikiran,” papar Nury yang dikenal dengan ibu baca tulis karena gerakan mengajar Baca Tulis pada anak-anak suku pedalaman Baduy.
Dengan demikian, Nury selaku pegiat literasi yang mengkampanyekan 15 Menit Membaca dan 15 Menit Menulis (#15MM) mengajukan kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bima dan Walikota serta Wakil Walikota Bima untuk membuatkan program SENIN MENULIS 15Menit usai upacara bendera. “Saya percaya upaya ini jika dikerjakan secara terus menerus, pendidikan dasar BACA TULIS anak-anak akan lebih baik. Jangan ada lagi anak kelas 6 SD masih mengeja,” papar mantan jurnalis itu.
Hal senada dikatakan Shara, dia mengharapkan gerakan #ayomenulis ini juga mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak selain orang tua dan guru sekolah. “Kami mengandalkan guru dan orang tua untuk dapat membantu melestarikan menulis dengan tangan,” kata Shara.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kita Bima, NTB Drs.Alwi Yasin, M.AP menyambut baik tawaran gerakan #SENINMENULIS yang diajukan Nury Sybli. Dalam sambutannya dia mengatakan akan membuatkan surat edaran untuk seluruh Kepala Sekolah agar diterapkan 15 Menit Menulis setiap hari Senin. “Upaya ( tradisi menulis) ini sebagai bentuk usaha kita mengantarkan anak-anak Bima agar berani bersaing dengan anak-anak Indonesia lainnya, bahkan berani berkompetisi dengan anak di dunia,” paparnya.
— ke halaman berikutnya…>
