Revolusi Mental Indonesia Diperlukan Gotong-Royong
Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan Perayaan HUT Ke-72 Kemerdekaan RI harus menjadi momentum besar untuk mengembalikan kejayaan bangsa sejalan dengan Revolusi Mental yang digelorakan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) sejak 2014.
Menurut dia, revolusi mentakl pertama kali dilontarkan oleh Presiden Soekarno pada peringatan HUT Kemerdekaan 17 Agustus 1965, yakni suatui gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia menjadi manusia baru berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala.
Karakter bangsa yang kuat diyakini mampu menjadikan INdonesia berdaulat secara politik, berdikari secar ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan Indonesia. Kondisi Trisakti ini, akan medorong perceatan terwujudnya cita cita proklamasi Kemerdekaan RI 1945, yakni negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat adil, dan makmur.
Menurut dia ada tiga problem bangsa yang menjadi konsen Presiden Jokowi untuk dibenahi, pertama merosotnya wibawa negara, melemahnya sendi-sendi perekonomian, intoleransi dan krisis kepribadian Indonesia. Kondisi ini yang membuat Presiden terus menggelotorkan gerakan revolusi mental dari Sabang sampai Merauke.
Salah satu bukti nyata dari gerakan revolusi mental dengan digelarnya Pekan Kerja Nyata Revolusi Mental di Kota Solo, Jumat (25/8) hingga Minggu (27/8). Berbagai rangkain kegiatan salah satunya apel bersama Rwevolusi mental di Stadion Manahan ini.
Menurut Mendagri melihat esensi dari gerakan kerja nyata revolusi mental tersebut merupakan kegiatan pembangunan untuk menata diri dan instropeksi terhadap apa yang sudah dilakukan untuk Bangsa Indonesia. Tentunya ini, tidak semat-mata muncul, tetapi perlu dipupuk sejak awal.
“Semangat gotong royong , kebersamaan, kedisplinan, taat pada aturan, mengikuti perintah atasan dengan benarharus kembali ditingkatkan . Kegiatan ini juga untuk menggerakan dan mengordinir masyarakat untuk membangun bangsa secara bersama-sama,” kata Tjahjo.
Pada acara tersebut selain Menko PMK Puan Maharani, Mendagri Tjahjo Kumolo, juga hadir Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, Menteri Kesehatan: Nila F Moeloek, Menko Polhukam Wiranto, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo, kepala daerah lainnya di Indonesia.
