Site icon LOMBOKita

Pemkot Mataram Cari Lokasi Baru Car Free Day

Car Free Day Udayana Mataram/Foto: sangpencarijalan

LOMBOKita – Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mewacanakan untuk membuka kegiatan “car free day” di Jalan Lingkar Selatan untuk memecah keramaian di Jalan Udayana setiap Minggu.

“Kegiatan ‘car free day’ di Jalan Udayana sudah sangat padat sehingga perlu ada tambahan lokasi lain,” kata Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana di Mataram, Rabu.

Wakil wali kota mengatakan, untuk melaksanakan wacana tersebut perlu dilakukan kajian oleh sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

OPD terkait yang dimaksudkan antara lain Dinas Perhubungan bertugas melakukan rekayasa lalu lintas, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), serta Dinas Perdagangan yang bertugas melakukan penataan pedagang yang akan muncul di sepanjang arel CFD.

“Jika pembukaan CFD di Lingkar Selatan bisa terlaksana, hal itu bisa mengurangi volume masyarakat di Jalan Undayana pada hari Minggu,” katanya.

Setiap hari Minggu, sepanjang Jalan Udayana dipadati oleh masyarakat yang berolah raga, baik dengan jalan kaki maupun menggunakan sepeda.


Sementara bagian pinggirnya dipenuhi pedagang dengan jenis dagangan yang sangat variatif, mulai dari kuliner, baju, aksesori, sayur, buah, hingga penjualan bibit aneka tanaman hias maupun buah bahkan ada juga pedagang unggas dan ikan hias.

Menurutnya, kondisi Jalan Udayana saat CFD sudah saatnya perlu dilakukan penataan kembali, agar lebih representatif menjadi lokasi olah raga.

“Ke depan, kita akan menataan pedagang dengan melakukan lokalisasi sesuai dengan jenis dagangan, agar masyarakat mudah mencari apa yang dibutuhkan,” katanya.

Di samping itu, CFD disebut juga ajang wisata kuliner dari Sabang hingga Marauke karenanya para pedagang perlu dibina agar bisa menggunakan pakaian sesuai dengan kuliner khas yang dijualnya.

Misalnya, pedagang gudeg Jogja menggunakan blangkon, sedangkan pedagang lokal dari Mataram bisa menggunakan “sapuk” atau ikat kepala yang menjadi ciri khas suku Sasak.

“Hal itu bisa menjadi ciri khas mereka agar mudah dikenali para pengunjung yang ingin berburu kuliner dari berbagai daerah,” ujarnya.

Exit mobile version