Paguyuban Terune Dedare Lotim Dikukuhkan
LOMBOKita – Pengukuhan Paguyuban terune dedare kab lotim masa bhakti 2019-2021 dengan Ketua M Isroi, di laksanakan di aula kantor desa teros Sabtu (4/5).
hadir dala. Kegiatan tersebut yaitu L Suandi staf ahli mewakili Bupati, Kepala Dinas Pariwisata didampingi Kepala Bidang Pemasaran, Kepala Desa Teros, Lurah Tanjung.
Kepala Dinas Pariwisata DR Mugni dalam sambutannya mengatakan dengan adanya paguyuban ini, maka terune dedare yang telah di pilih oleh Dinas pariwisata, BPPD maupun oleh PMD agar bergabung menjadi anggota.
Kegiatan ini sudah lama berjalan tidak hanya saat ini, Sejak saya menjadi sub kepala dinas pariwisata tahun 2006 saya pernah mengadakan kegiatan seperti ini dan pada waktu itu banyak yang terpilih menjadi terune dedare dan itu bisa dicari kembal anggotanya, imbuh Mugni.
Semakin banyak anggota itu akan semakin baik karena kita berorganisasi merupakan wadah kita untuk beramal dan organisasi bukan tempat kita mencari uang.
“Berorganisasi itu harus memiliki niat ibadah karena disitu tidak ada uang”ucapnya.
Mari organisasi ini kita ikuti dan Insya Allah banyak manfaat dalam rangka mengembangkan wawasan dan pengetahuan serta kawan.
Sementara itu kaitan dengan kegiatan pariwisata lainnya terus berjalan dan kita akan tingkatkan melalui pengembangan kegiatan-kegiatan
dalam rangka meningkatkan kapasitas para pelaku pariwisata dalam bentuk pelatihan dan itu sudah berjalan yang dilaksanakan oleh bidang kapasitas dan oleh bidang pemasaran yang ada di dinas pariwisata
Selain itu, kita juga harus pahami pariwisata itu kita menjual sesuatu yang menarik dan sesuatu yang memiliki daya tarik yang unik, salah satu adalah budaya asli sasak.
“orang kesini itu ingin melihat budaya asli sasak bukan budaya orang, jadi harus kita kembali cintai budaya kita, Orang jepang saja sangat kokoh mencintai budayanya, tapi dia menguasai dunia” kata Mugni.
untuk mendukung hal itu, menurit Mugni, pihaknya telah mengambil kebijkan, di Dinas Pariwisa setiap hari Jumat merupakan hari berbahasa sasak,tetmasuk mewajibkan pehawainya menggunakan pakaian adat sasak muslim (Kain dan Kopiah)
“Pada Hari Jum’at di dinas pariwisata tidak boleh menggunakan bahasa lain harus menggunakan bahasa sasak, karena pada hari itu juga tidak ada yang namanya kepala dinas, tidak ada kepala bidang, tidak ada Kasi yang ada hanya Amaq-Amaq dan Inaq-inaq,” sebutnya
Kalaupun ada yang datang kekantor dinas pariwisata pada hari jum’at lalu tidak bisa berbahasa sasak jangan datang kekantor dinas pariwisata karena itu kebijakan yang kami ambil untuk dapat melestarikan budaya sasak.
” hal ini telah kita laporkan ke pak bupati,” jelasnya. Agar budaya sasak tetap lestari.
