Lombok Waspada, Vulkanik Gunung Agung 18 KM/Jam
Meskipun erupsi Gunung Agung mencapai 3.000 s.d. 4.000 meter dari puncak kawah gunung, status Bandara Internasional Lombok, hingga Minggu (26/11) pukul 17.30 WITA masih aman karena belum ada jatuhan debu vulkanis di area bandara.
Hanya saja, dua maskapai penerbangan melakukan pembatalan keberangkatan dan penerbangan dari dan menuju Lombok. Kebijakan tersebut diambil oleh maskapai penerbangan Garuda Indonesia dan AirAsia dengan pertimbangan keselamatan penerbangan.
General Manager Angkasa Pura I Bandara Internasional Lombok I Gusti Ngurah Ardita mengatakan bahwa Garuda Indonesia melaporkan pembatalan delapan kedatangan dan tujuh keberangkatan pada hari Minggu (26/11) pukul 11.00 WITA. Semuanya adalah rute penerbangan domestik.
Sementara itu, AirAsia membatalkan kedatangan dari Kuala Lumpur, Malaysia.
Maskapai penerbangan lainnya, yakni Lion Air, Batik Air, dan Citylink, masih tetap melayani penerbangan dari dan menuju Bandara Internasional Lombok.
Semua pihak tentu berharap letusan Gunung Agung, Bali, tidak sampai menyebabkan kelumpuhan pada aktivitas penerbangan dalam jangka waktu lama yang bisa merembet pada sektor ekonomi lainnya, terutama pariwisata NTB. Apalagi, kerugian ekonomi yang ditimbulkan tidak sedikit. Misalnya, peristiwa letusan Gunung Barujari anak Gunung Rinjani di Pulau Lombok yang terjadi pada bulan November 2015.
Ketika itu, operasinal empat bandara di NTB, sempat dihentikan sementara demi keselamatan penerbangan. Empat bandara itu, yakni Bandar Udara Internasional Lombok (BIL), Bandara Selaparang di Mataram yang digunakan untuk kegiatan pelatihan penerbangan, Bandar Udara Sultan Muhammad Kaharuddin III (Brangbiji), Kabupaten Sumbawa, dan Bandar Udara Sultan Muhamad Salahudin di Kabupaten Bima.
Penutupan aktivitas Bandara Internasional Lombok selama beberapa hari menyebabkan PT Angkasa Pura I Bandara Internasional Lombok merugi hingga Rp3 miliar dari pembatalan aktivitas keberangkatan dan kedatangan penumpang yang mencapai 3.000 s.d. 4.000 orang per hari.
Dampak lainnya berupa penurunan jumlah kunjungan wisatawan ke NTB hingga 50 persen. Kondisi tersebut berimplikasi pada pendapatan “guide” atau pramuwisata karena terbatasnya orang yang membutuhkan jasa mereka.
Semoga kondisi Gunung Agung segera pulih dan aktivitas masyarakat di dua pulau besar yang sedang membangun dan menjaga dunia pariwisatanya (Bali dan NTB) kembali seperti sediakala.
