Lombok Waspada, Vulkanik Gunung Agung 18 KM/Jam
Dikutip dari laman https://bisakimia.com/, abu vulkanis merupakan leburan bagian dalam gunung yang terdiri atas batu-batu yang hancur, mineral, dan kaca vulkanis yang dikeluarkan saat letusan gunung berapi, berdiameter kurang dari 2 milimeter (0,079 inci).
Jenis-jenis mineral yang terkandung dalam abu vulkanis tergantung pada kimia magma letusan gunung berapi. Unsur yang paling berlimpah ditemukan dalam magma adalah silika (SiO2) dan oksigen.
Letusan basal energi rendah (basal adalah batuan beku berwarna gelap, berbutir halus yang umumnya merupakan pembekuan lava dari gunung api) menghasilkan abu berwarna gelap khas yang mengandung 45 s.d. 55 persen silika yang umumnya kaya akan zat besi (Fe) dan magnesium (Mg).
Letusan riolit paling eksplosif menghasilkan abu felsic yang tinggi silika sekitar 69 persen, sedangkan jenis lain abu dengan komposisi menengah, misalnya andesit atau dasit, memiliki kandungan silika antara 55 s.d. 69 persen.
Gas-gas utama dilepaskan selama aktivitas gunung berapi adalah air, karbon dioksida, sulfur dioksida, hidrogen, hidrogen sulfida, karbon monoksida, dan hidrogen klorida.
Sulfur, gas halogen, dan logam dikeluarkan dari atmosfer oleh proses reaksi kimia, deposisi kering dan basah, dan oleh adsorpsi ke permukaan abu vulkanis.
Efek kesehatan dari abu vulkanis tergantung pada ukuran butir, komposisi mineralogi, dan pelapis kimia pada permukaan partikel abu. Faktor tambahan yang berkaitan dengan gejala pernapasan adalah frekuensi dan lama pemaparan, konsentrasi abu di udara, dan fraksi abu terhirup.
Efek kesehatan kronis dari abu vulkanis yang mungkin, seperti paparan kristal silika bebas yang diketahui dapat menyebabkan silicosis. Mineral yang terkait dengan ini, termasuk kuarsa, kristobalit dan tridimit, yang semuanya mungkin ada dalam abu vulkanis.
Sejauh ini, kata Khairul, belum ada debu vulkanis yang jatuh di Kabupaten Lombok Utara meskipun sudah ada hasil analisis satelit Himawari BKMG yang memperkirakan bahwa letusan abu vulkanis mengarah ke tenggara dan timur menuju Pulau Lombok.
Meskipun demikian, upaya antisipasi tetap dilakukan sejak dini. Pasalnya, pergerakan debu vulkanis hasil letusan Gunung Agung dipengaruhi oleh arah angin yang sering berubah-ubah.
Antisipasi yang sudah dilakukan adalah menginstruksikan Kepala Puskesmas di kawasan wisata Gili Trawangan untuk terus melaporkan perkembangan terkait dengan dampak letusan Gunung Agung.
Jarak kawasan wisata itu dengan Pulau Bali relatif dekat sehingga perlu upaya antisipasi terhadap hal-hal yang tidak diinginkan, terutama bagi para wisatawan.
Kepala Puskesmas Nipah dan tim medisnya juga sudah diimbau untuk waspada. Pasalnya, wilayah pantai tersebut berhadapan langsung dengan Gunung Agung.
Selain menyiapkan masker, Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Utara juga memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait dengan penyakit pada saluran pernapasan akibat menghirup debu vulkanis letusan gunung berapi.
Berdampak pada Penerbangan Selain dampak kesehatan, letusan Gunung Agung juga berdampak pada aktivitas jasa penerbangan dari dan menuju Bandara Internasional Lombok di Kabupaten Lombok Tengah.
