Kompleksitas Pembangkit Cuaca–Iklim di Indonesia

LOMBOKita – Jika berbicara cuaca dan iklim maka kita akan berbicara tentang sesuatu yang sangat kompleks tanpa ada batasan wilayah administrasi juga waktu dan bisa terjadi kapan saja. Hal ini dikarenakan cuaca dan iklim beserta gangguannya memberi dan menerima pengaruh satu dengan yang lainnya. Terlebih jika kita memfokuskan ke wilayah Indonesia maka akan semakin kompleks-lah hal tersebut karena pengaruh dari letak Indonesia, bukan hanya starategis sebagai jalur perdagangan tetapi juga starategis memberikan “kejutan-kejutan” cuaca dan iklim yang tak terduga.

Kondisi tersebut biasa disebut sebagai anomali cuaca dan iklim. Letaknya di area tropik, menjadikan Indonesia sebagai wilayah penerima energi matahari yang jumlahnya berlebih atau surplus jika dibandingkan dengan wilayah lintang atas dan kutub. Oleh karena radiasi dan energi matahari sebagai penggerak cuaca dan iklim, maka wajar jika fenomena cuaca dan iklim sangatlah dinamis di Indonesia. Terlebih lagi Indonesia diapit oleh dua Samudera yang memiliki fenomena iklim regional dan memberi pengaruh secara global seperti Fenomena La Nina dan El Nino di Samudera Pasifik serta Fenomena Dipole Mode di Samudera Hindia.

Indonesia juga diapit oleh dua benua yaitu Benua Asia dan Australia yang memiliki peran dalam pergerakan angin Monsun Baratan dan Timuran. Sehingga hal tersebut menjadi sesuatu yang lumrah, jika anomali cuaca dan iklim terjadi di wilayah Indonesia yang memiliki kompleksitas relatif tinggi terhadap fonomena cuaca dan iklim beserta gangguannya.

Anomali Cuaca dan Iklim
Nah sebenarnya apa yang disebut dengan anomali? Apakah setiap gangguan cuaca dan iklim disebut dengan anomali? Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia kata anomali merujuk kepada kondisi ketidaknormalan, penyimpangan dari kondisi normal dan/atau kelainan. Sedangkan berdasarkan Cambridge Dictionary, “anomaly” berarti sesuatu yang tidak biasa; terlihat atau terasa aneh. Sehingga anomali cuaca dan iklim dapat diartikan sebagai kondisi atau kejadian cuaca dan iklim yang tidak normal, memiliki penyimpangan atau dapat dirasakan sebagai fenomena yang aneh di masyarakat karena diluar dari kebiasaan.

Anomali cuaca biasanya terjadi pada rentang waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan anomali iklim, bisanya anaomali cuaca hanya terjadi pada beberapa hari saja. Seperti kejadian siklon tropis yang dapat mengakibatkan anomali angin, curah hujan dan gelombang dalam rentang waktu 3 (tiga) sampai 7 (tujuh) khususnya di wilayah Indonesia.

Sedangkan anomali iklim memiliki rentang waktu yang cukup panjang bisa mencapai bulanan bahkan tahunan. Jika kondisi anomali terjadi secara terus meneruh maka akan menjadi variabilitas iklim yang merupakan hasil rata-rata dari kondisi iklim termasuk anomalinya. Misal adanya El Nino / La Nina, fenomena Maden Julian Osscilation (MJO), dan/atau menguat atau melemahnya angin timuran/baratan.

Anomali iklim juga bisa menjadi indikator perubahan iklim jika diamati secara kontinu. Fenomena anomali cuaca dan iklim biasanya akan disandingkan dengan kondisi normal atau klimatologisnya selama rentang waktu 30 tahun (waktu normal untuk melakukan analisis cuaca-iklim). Jikalau tidak ada series data yang panjangnya sesuai dengan syarat normal maka perbandinganya akan dilakukan terhadap rata-ratanya.

Pengaruhnya Terhadap Musim
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa, anomali iklim akan akan terjadi pada rentang waktu yang lebih lama di bandingkan dengan anomali cuaca yang umumnya hanya dalam skala waktu harian bahkan jam. Walaupun demikian, anomali cuaca dan iklim akan memberikan pengaruh terhadap kondisi musim di suatu wilayah. Masih diingat jelas dalam ingatan, kejadian El Nino pada tahun 2015, dimana musim kemarau menjadi lebih panjang dari pada normalnya dan banyak area terdampak kekeringan.

Berdasarkan data dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) lebih dari seratus hektar lahan pertanian terdampak dari peristiwa El Nino. Atau pada tahun 2010 terjadi fenomena La Nina kuat yang menyebabkan banjir dan hampir seluruh wilayah Indonesia tidak memiliki musim kemarau karena frekuensi dan intensitas curah hujan yang cukup tinggi sepanjang tahun. Lalu, yang baru saja terjadi pada awal bulan April 2021 kemarin yaitu munculnya Siklon Tropis Seroja yang menghantam wilayah Nusa Tenggara khususnya Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengakibatkan beberapa wilayahNTT terdampak kerusakan serta mempengaruhi awal musim kemaraunya. Serta wilayah NTB yang pada awal bulan Mei 2021 ini mengalami peningkatan curah hujan karena adanya anomali pola angin di wilayah Nusa Tenggara serta aktifnya Gelombang Rossby. Hal tersebut yang meningkatkan pembentukan awan-awan hujan penghasil hujan lebat.

Hujan yang cukup siginifikan dalam beberapa hari terakhir ini menjadi hal yang cukup membingungkan masyarakat, pasalnya secara umum atau kebiasaan bulan Mei di wilayah NTB sudah memasuki musim kemarau. Tetapi karena adanya ganguan anomali cuaca regional (pola angin dan gelombang Rossby) serta gangguan global yaitu Fenomena La Nina menyebabkan pengaruhnya terhadap awal musim kemarau di NTB pada tahun 2021 ini.

Perlu dipahami bahwa musim kemarau yang terjadi tidak serta merta menjadikan hujan hilang seratus persen atau tidak ada hujan sama sekali, melainkan frekuensi dan intensitasnya yang menjadi berkurang jika dibandingkan dengan musim hujan. Sebaliknya, musim hujan pun tidak serta merta menjadikan sepanjang musim sebagai hari hujan secara terus menerus selama berbulan-bulan tanpa cahaya matahari. Hanya saja frekuensi dan intensitasnya yang lebih tinggi. Anomali-anomali cuaca dan iklim lah yang umumnya menjadi faktor pendorong naik-turunnya frekuensi dan intensitas curah hujan pada suatu musim.

Setiap musim (baik musim hujan maupun musim kemarau) merupakan suatu yang unik. Akan berbeda setiap tahunnya meskipun anomali yang terjadi bisa saja sama. Hal itu karena sifat dasar cuaca dan iklim yang dinamis dan dipengaruhi banyak faktor baik yang ada di lautan maupun di atmosfer. Anomali tersebut juga sebagai penyeimbang sumber energi matahari yang diterima tidak merata oleh permukaan bumi karena kondisi geografis yang berbeda disetiap wilayah. Oleh karena itu, pemahaman cuaca dan iklim perlu terus digalakkan di masyarakat agar dapat mengantisipasi bahaya dan kerugian yang ditimbulkan dari anomali cuaca-iklim.