Kerenn… Petani Bilebante Gunakan Handphone Untuk Pemupukan dan Penentuan Waktu Panen

LOMBOKita – Sejumlah kelompok tani di kawasan wisata hijau Bilebante, Pringgarata Lombok Tengah mengikuti program Gerakan Petani Digital 4.0 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melalui Direktorat Ekonomi Digital dengan sangat antusias.

Kominfo memilih Bilebante menjadi salah satu daerah yang terlibat dalam implementasi pertanian digital tersebut. Program ini bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi dan bisnis pada setiap rantai nilai pertanian melalui pemanfaatan teknologi digital.

Panen raya yang berlangsung pada Kamis (4/11/2021) dihadiri oleh perwakilan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Dr.Rachmat, S.Si, M.Si, selaku Koordinator PadiIrigasi dan Rawa,  Asisten II Pemkab Lombok Tengah H. Nasrun M, dan Sekretaris DinasPertanian Lombok Tengah,TaufiqurrahmanPua.


Baca juga: Konsistensi Para Legacy Makers yang Diapresiasi PT Sinde Budi Sentosa

Selain itu, juga hadir pakar pertanian Universitas Gadjah Mada, Eko Putranto, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (APTIKA) Kominfo Semuel Abrijani P secara daring, dan Koordinator Inisiatif Digital Sektor Strategis I (Pertanian, Maritim, Logistik) Kementerian Kominfo, Wijayanto.

Asisten II Pemkab Lombok Tengah, H. Nasrun M mengapresiasi program adopsi teknologi digital yang berlangsung di Bilebante. Hal itu dinilai sebagai terobosan baru dalam dunia pertanian. Menurut beliau, tidak sedikit jumlah petani di Bilebante yang sudah mahir menggunakan gadget.

“Petani harus memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produksinya,” ujarNasrun.

Gerakan Petani Digital 4.0 ini menargetkan petani dengan komoditas tanaman pangan seperti padi dan jagung serta tanaman hortikultura seperti cabai dan bawangmerah.

Koordinator Inisiatif Digital Sektor Strategis (Pertanian, Maritim, Logistik) Kominfo, Wijayanto menyatakan bahwa Gerakan Petani Digital 4.0 ini telah berlangsung sejak pertengahan tahun 2021, di Desa Bilebante.

“Kami menggunakan alat sensor tanah dan sensor cuaca yang memberikan informasi lingkungan pertanian secara real time seperti suhu udara, curahhujan, arah angin, kelembapan tanah, suhutanah, PH tanah, hinggaelectrical conductivity,” ujarWijayanto.

Rangkaian program itu dimulai sejak pemasangan alat internet of Things (IoT), sensor tanah dan cuaca, pendampingan petani dalam menggunakan teknologi digital, hingga pengambilan baseline data pertanian setempat.

Selanjutnya, alat tersebut mengirim pesan melalui aplikasi dan nantinya petugas memberikan rekomendasi tindakan yang diperlukan, seperti jumlah air yang diperlukan tanaman, jenis pupuk yang dibutuhkan, hingga rekomendasi waktu pemupukan.

“Nanti kelompok tani mengunduh aplikasi untuk memperoleh rekomendasi dan informasi dari alat tersebut,” tambahnya.

Untuk sensor tanah mampu menjangkau area dengan radius 500 meter hingga 1 kilometer, sementara sensor cuaca bisa menjangkau area dengan radius hingga tiga kilometre (km). Alat sensor tersebut juga dapat dipindahkan sesuai kebutuhan.

Wijayanto menjelaskan, Gerakan Pertanian Digital 4.0 ini juga dilaksanakan di KabupatenPasaman Barat dan Kabupaten Malang. Hasilnya pun sangat memuaskan dengan penambahan jumlah produksi padi dari 10 ton menjadi 12 ton. “Peningkatannya sampai 20 hingga 30 persen. Juga bisamenghematpupukkarenapolatanamnyaterkontrol,” ujarnya.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (APTIKA), Kominfo Semuel Abrijani P, mengatakan Gerakan Petani Digital 4.0 merupakan upaya dari Kementerian Kominfo sebagai fasilitator dan akselerator dalam meningkatkan adopsi teknologi digital di sector pertanian sebagai langkah untuk mewujudkan Indonesia yang siap menjadi negara digital dan turut andil dalam akselerasi perekonomian global.

Upaya tersebut menurutnya dilakukan sesuai arahan Presiden Republik Indonesia pada Agustus 2020 tentang peningkatan infrastruktur digital, transformasi digital di sektor-sektorstrategis, percepatan integrasipusat data nasional, kebutuhan SDM talenta digital, dan skema regulasi pembiayaan transformasi digital.

“Saya harap program ini dapat dilakukan bersama-sama oleh seluruh pihak, dengan komit men untuk menciptakan ekosistem pendukung implementasi teknologi digital sector pertanian yang berkelanjutan.” tutupSemuel.

Usai panen raya, kegiatan tersebut dirangkai dengan diskusi publik yang melibatkan para petani, kuisinteraktif, dan pembagian doorprize. Para petani berharap agar program Gerakan Petani Digital Digital 4.0 itu terus diterapkan di wilayah mereka. Tentunya dengan pendampingan yang intensif sehingga berdampak positif bagi perekonomian para petani. (Adv)