Butuh Berapa Korban Lagi Gempa Lombok jadi Bencana Nasional?

Petugas BNPB sedang berusaha membongkar reruntuhan masjid di Lombok Utara yang ambruk diguncang gempa, untuk mencari warga yang tertimbun saat melaksanakan ibadah

LOMBOKita – Guncangan dahsyat yang melanda pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat sejak akhir Juli 2018 berkekuatan 6,4 skala richter, kemudian gempa susulan yang lebih keras 7,0 skala richter disertai ratusan kali getaran gempa susulan lainnya, menyisakan duka cukup mendalam bagi warga di daerah ini.

Jeritan tangis yang menyayat hati mulai terdengar ketika guncangan pergeseran kulit bumi bernama gempa itu meluluh-lantahkan rumah-rumah penduduk, merusak fasilitas umum dan rumah ibadah lainnya. Bahkan di Kabupaten Lombok Utara yang menjadi titik pusat terjadinya gempa mengalami kerusakan cukup parah.

Demikian pula dengan korban bencana gempa di Kabupaten Lombok Timur yang menimpa Kecamatan Sembalun, Sambalia dan Pringgabaya, di Kecamatan Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Barat, Kota Mataram hingga ke pulau Dewata Bali dan pulau Sumbawa, semuanya menjadi catatan kelam masyarakat yang harus mendapat perhatian serius dari pemerintah.


Baca juga berita lainnya:

BNPB: Korban Meninggal Gempa Lombok 259 Orang

TGB dan Gubernur Terpilih Boncengan Motor Kunjungi Korban Gempa

Dihantui Gempa Susulan, Warga Lombok Makin Trauma

Pascagempa, Kunjungan Turis Berkurang 100 Ribu ke Lombok

800 Personel TNI/Polri Dikerahkan Evakuasi Korban Gempa‎

Salah seorang anggota Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Aksi Cepat Tanggap (ACT) asal Kota Mataram, Syamsul Bahri mengaku sangat miris melihat korban gempa bumi yang melanda pulau Lombok, lantaran belum mendapat pertolongan secara maksimal.

“Sungguh miris hati ini. Bencana hebat di tanah kami, jeritan tangis dari korban, belum maksimal kami beri pertolongan,” pungkas Syamsul Bahri dihubungi Lombokita.com.

Syamsul mengatakan, saat ini warga di daerah terdampak bencana gempa bumi disergap rasa takut, bencana susulan mengintai kapan saja, membuat mereka tak ingin jauh dari keluarga.

Dalam pantauannya, kata Syamsul, ratusan manusia bercucur darah, berderai air mata, bertaruh nyawa, tak ada yang bisa berbuat apa-apa. Ratusan korban tewas , badan mereka tergencet reruntuhan rumah, Masjid, Ruko, jalan dan lainnya, tak banyak orang yang bisa berbuat banyak, karena jumlah korban yang tak sebanding dengan para relawan tenaga medis.

“Yang selamat disergap rasa lapar, sementara yang meninggal, masih terbujur dan terkapar,” kata Syamsul.

Syamsul bahkan menganggap bahwa Lombok telah dilanda lumpuh total. Perekonomian terhenti. Pasokan bahan makanan mulai berkurang. Air bersih langka, jaringan listrik mati, telekomunikasi terganggu, infrastruktur hancur, distribusi bantuan tersendat, tim evakuasi minim, paramedis sibuk luar biasa, rumah sakit rusak berat, ruangannya dipenuhi sesak korban yang terluka.

Bencana gempa bumi itu, menurut Syamsul, telah meninggalkan trauma khususnya bagi kalangan anak-anak di daerah terdampak bencana gempa. Anak-anak tak ingin lepas dari orang tuanya. Kaum wanita tak ingin jauh dari sanak saudaranya. Para ayah, ibu dan orang tua berusaha keras menenangkan, namun tetap saja rasa aman tercabut dari akarnya.

Ribuan orang memilih bertahan di tenda-tenda. Mereka takut masuk ke dalam rumah karena gempa susulan yang datang secara tiba-tiba, tidak kenal siang ataupun malam.

“Ini bukan bencana biasa. Kapasitas daerah tak akan sanggup mengatasinya. Dampak gempa terlalu luas, korban materil terlalu banyak, sebarannya merata, di hampir seluruh kabupaten/kota di pulau Lombok,” tandas Syamsul.

Menurut Syamsul, saatnya negara hadir. Kerahkan semua sumber daya yang ada. Ratusan ribu korban yang selamat membutuhkan uluran tangan. Mereka disergap hawa dingin, sementara perut mereka hanya berisi angin.

Pemerintah daerah, BPBD NTB Provinsi beserta NGO sudah berbuat banyak. Tapi jumlah dan kemampuan mereka kurang banyak. Negara harus hadir membantu para korban gempa bumi.

“Naikkan status bencana ini menjadi Bencana Nasional agar agar para korban punya harapan untuk hidup dan diselamatkan. Butuh berapa korban lagi gempa Lombok dijadikan sebagai bencana nasional?,” kata Syamsul.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Komentar ditutup.