Begini Kata BI Cara Atasi Produksi Cabai Melimpah
LOMBOKita – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Nusa Tenggara Barat, Prijono mengatakan deflasi atau rendahnya harga cabai akibat melimpahnya produksi saat panen raya perlu diatasi dengan mengembangkan industri olahan sehingga petani tidak merugi.
“Perlu dilakukan hilirisasi agar nilai ekonomi cabai yang melimpah bisa ditingkatkan,” katanya usai mengikuti pelepasan mobil operasi pasar beras di kantor Perum Badan Urusan Logistik Divisi Regional Nusa Tenggara Barat (NTB), di Mataram, Selasa.
Upaya mengembangan industri olahan cabai sudah dilakukan Kantor Perwakilan BI NTB, dengan membina Kelompok Wanita Tani (KWT) Tetu-Tetu, di Desa Lendang Nangka, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur.
Menurut Prijono, kelompok binaannya sudah mampu menciptakan produk olahan berbahan baku cabai, berupa sambal cabai hijau, sambal terasi, abon cabai teri, dan abon cabai ebi kentang.
Seluruh produk dengan bahan dasar cabai dan tanpa bahan pengawet tersebut sudah memiliki PIRT dan memperoleh sertifikat halal dari LPPOM MUI.
“Kemasan olahan cabai yang dihasilkan binaan kami sudah cukup bagus sehingga diterima pasar,” ujarnya.
Ia mengatakan pembinaan kelompok wanita tani dalam mengolah cabai sebagai langkah awal. Jika usaha tersebut mampu berkembang, maka akan dilanjutkan dengan mengembangkan klaster cabai di daerah lainnya.
Pihaknya sudah memiliki perencanaan ke depan dalam rangka menumbuhkan industri olahan cabai, khususnya di Kabupaten Lombok Timur, sebagai sentra produksi cabai terbesar di NTB.
Upaya mendorong hilirisasi cabai, lanjut Prijono, tentu membutuhkan peran semua pihak, terutama Pemerintah Provinsi NTB dan kabupaten/kota melalui dinas terkait.
“BI mencoba memberikan percontohan pola pembinaan. Kami berharap setelah binaan bisa mandiri akan mengajarkan kelompok lain sehingga industri olahan cabai berkembang,” ucapnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB Husnul Fauzi, mengakui terjadinya penurunan harga cabai memasuki musim panen raya sejak September-Oktober 2017.
Harga cabai bahkan menyentuh Rp5.000 per kilogram (kg) di tingkat petani. Sementara harga cabai di tingkat pedagang pengecer di pasar induk Mandalika, Kota Mataram, Rp10.000/kg.
Namun, ketika di luar musim, harga cabai bisa melambung tinggi, bahkan menyentuh harga Rp100.000/kg akibat kurangnya pasokan dari petani.
Ia menyebutkan potensi lahan cabai di NTB mencapai 25.000 hektare. Namun yang sudah ditanami sekitar 15.000 hektare. Sentra terbesar adalah di Kabupaten Lombok Timur.
“Cabai kita ada yang dikirim ke luar daerah, tapi pada saat panen raya produksinya melimpah, tidak diikuti dengan tingginya permintaan. Apalagi panen terjadi secara serentak di Indonesia,” katanya.
