Dampak Perubahan Iklim: Mitigasi dan Adaptasi

LOMBOKita – Perubahan iklim merupakan salah satu ancaman yang sangat serius terhadap sektor pertanian dan berpotensi mendatangkan masalah baru bagi keberlanjutan produksi pangan (lihat “PPP Kementan” 2011). Perubahan iklim adalah kondisi beberapa iklim yang intensitasnya cenderung berubah atau menyimpang dari dinamika dan kondisi rata-rata menuju ke arah tertentu (meningkat atau menurun).

Selain meningkatkan suhu bumi, perubahan iklim juga menyebabkan meningkatnya frekuensi kejadian anomali iklim, pergeseran dan ketidaktentuan curah hujan dan musim serta meningkatnya permukaan air laut (Las et al. 2011). Pertanian tanaman pangan dan hortikultura merupakan sub sektor yang paling rentan terhadap perubahan pola curah hujan karena tanaman hortikultura umumnya merupakan tanaman semusim yang relatif sensitif terhadap kelebihan dan kekurangan air. Secara teknis, kerentanan tanaman hortikultura sangat berhubungan dengan sistem penggunaan lahan, sifat tanah, pola tanam, teknologi pengelolaan tanah, air, tanaman, dan varietas.

Dari perspektif perubahan iklim, Indonesia yang mempunyai luas wilayah dan letaknya yang strategis, termasuk potensi kawasan hutannya, yang dinilai sangat penting dalam upaya mitigasi dan adaptasi atas perubahan iklim global. Perubahan iklim saat ini ditandai oleh semakin meningkatnya unsur frekuensi kejadian bencana hidrometeorologis, di antaranya cadangan ketersediaan air yang semakin berkurang dan atau bahkan bisa menyebabkan kelebihan jumlah debit air pada waktu yang lain, serta kebakaran hutan dan lahan.

Bencana-bencana hidrometeorologis tersebut berpotensi akan meningkat berdasarkan proyeksi perubahan iklim di masa mendatang, dan dapat berpengaruh pada ketahanan sumber daya air, pangan, dan energi.

Pentingnya Adaptasi dan Mitigasi
Mengingat bahwa dampak yang ditimbulkan oleh perubahan iklim dapat mempengaruhi aktivitas kehidupan manusia dan ekosistem lainnya, diperlukan kemampuan untuk menghadapinya. Terdapat dua strategi yang dapat ditempuh sebagai bentuk respons menghadapi dampak, yaitu adaptasi dan mitigasi. Mitigasi merupakan usaha pencegahan untuk mengurangi peningkatan emisi GRK dan meningkatkan penyerapan karbon.

Adaptasi adalah langkah menyesuaikan diri terhadap perubahan yang akan terjadi di masa mendatang. Dengan kekayaan sumber daya alam berupa hutan, laut, mineral, energi, gambut dan sebagainya, potensi serapan dan simpanan karbon Indonesia sangat luar biasa. Dalam skala kecil, mitigasi bisa berupa gerakan cinta lingkungan seperti pengelolaan sampah, bike to work, mengurangi penggunaan plastik, menggunakan AC yang non CFC, hemat energi dan lain sebagainya.

Adapun beradaptasi dapat dilakukan dengan melakukan penataan lanskap lingkungan, penghijauan, menjaga daerah resapan, reuse, recycling, dan lain-lain. Beradaptasi terhadap perubahan iklim merupakan prioritas mendesak bagi Indonesia. Seluruh kementerian dalam pemerintahan dan perencanaan nasional perlu mempertimbangkan perubahan iklim dalam program-program mereka berkenaan dengan beragam persoalan seperti pengentasan kemiskinan, pemberdayaan masyarakat, keamanan pangan, pengelolaan bencana, pengendalian penyakit, dan perencanaan tata kota. Namun ini bukan merupakan tugas pemerintah pusat belaka, tetapi harus menjadi upaya nasional yang melibatkan pemerintah daerah, masyarakat umum, dan semua organisasi non-pemerintah, serta pihak swasta.

Perubahan iklim merupakan perubahan jangka panjang dari distribusi pola cuaca secara statistik sepanjang periode waktu mulai dasawarsa hingga jutaan tahun. Ia juga bisa diartikan sebagai perubahan keadaan cuaca rata-rata atau perubahan distribusi peristiwa cuaca rata-rata. Perubahan iklim dapat terjadi secara lokal, terbatas hingga regional tertentu, atau dapat terjadi di seluruh wilayah permukaan bumi. Perubahan itu ditandai setidaknya oleh empat hal, pertama, karena adanya perubahan atau kenaikan temperatur secara global, kedua, kenaikan tinggi muka air laut, ketiga, semakin sering terjadinya kondisi cuaca ekstrem dan lainnya, dan keempat terjadi perubahan pola curah hujan.

Berbagai tantangan tersebut membutuhkan langkah antisipasi lebih dini agar Indonesia dan dunia mampu beradaptasi dan melakukan mitigasi secara tepat. Masyarakat bisa ikut berperan dalam mitigasi dengan melakukan hal-hal kecil namun dapat mengurangi emisi gas rumah kaca seperti membatasi penggunaan kendaraan bermotor, mulai beralih ke sarana transportasi umum, menghemat penggunaan listrik dan air, mengurangi penggunaan sampah plastik, dan menanam pohon di lingkungan sekitar. Lebih lanjut, perubahan iklim ini tidak memandang batas teritorial dan setiap negara pasti merasakannya.

Terobosan dan lompatan inovasi berbasis kepada big data analysis dan artificial intelligence merupakan keniscayaan untuk peningkatan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim tersebut. Penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para ahli perlu berfokus pada usaha mengurangi emisi karbon dioksida untuk menahan laju kenaikan temperatur global. Namun diperlukan juga pendekatan inovasi sosial atau rekayasa sosial sebagai upaya untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim ini. Misalnya, para petani perlu dibekali pengetahuan untuk memahami dan memanfaatkan informasi atau prediksi iklim dan cuaca, guna menyesuaikan waktu, pola dan jenis tanaman yang harus ditanam.

Tujuannya untuk menghasilkan produk komoditas pangan yang optimal meskipun dilanda berbagai gangguan cuaca. Dengan cara beradaptasi ini, petani dapat juga memutuskan waktu tanam dan waktu panen yang tepat, untuk menghindari gangguan cuaca atau iklim ekstrem.