Dialog Publik UNU NTB; Pentingnya Ruang Aman Bagi Perempuan di Kalangan Perguruan Tinggi
LOMBOKita – Fakultas Kesehatan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Nusa Tenggara Barat mengadakan acara dialog publik bertema Perempuan dalam Cawan Seksisme : Penyediaan Ruang Aman Bagi Perempuan dalam Ruang Belajar Perguruan Tinggi.
Acara dialog publik yang diinisiasi oleh Wakil Sekjend BEM Fakultas Kesehatan UNU NTB Aulya Ramayanti dan Kepala Advokasi BEM Amrina Rosyada itu dilaksanakan di aula kampus setempat, Kamis (19/5/2022).
Kepada LOMBOKita, Aulya Ramayanti dan Amrina Rosyada mengatakan, wacana kegiatan itu disambut baik oleh Dekan Fakultas Kesehatan UNU NTB, Zulhakim, SKM., MM beserta Wakil Dekan Fkes sekaligus pembina 1 BEM FKes Lalu Mariawan Alfarizi, M.H.Kes.,C.H.T.,CTGF.

Acara itu juga, kata kedua mahasiswi berprestasi itu, didukung sepenuhnya oleh pembina 2 BEM Fkes UNU NTB, Nurmaningsih, M.Pd yang pada waktu itu juga hadir sebagai pemateri dalam acara dialog perempuan tersebut. Dia menyampaikan bahwa ke depan dialog publik itu harus tetap dilaksanakan sebagai bentuk perjuangan terhadap kaum perempuan.
Wakil Sekjend BEM FKes UNU NTB, Aulya Ramayanti berharap semoga dengan terlaksananya dialog publik tersebut akan semakin menambah semangat juang untuk mengawal dan memperjuangkan hak-hak wanita yang kerap menjadi korban pelecehan kekerasan seksual.
Aulya juga mengharapkan segera terbentuknya Satgas pengaduan dan ruang aman di kalangan perguruan tinggi di NTB mengingat di daerah Bumi Gora ini menjadi nominasi 10 besar tingginya angka kasus pelecehan seksual di Indonesia.
“Semoga dengan acara dialog publik ini bisa memantik semangat perjuangan temen-temen mahasiswa untuk aware dan peduli terhadap isu-isu perempuan,” imbuh Aulya Ramayanti yang juga sekaligus sebagai Duta Lingkungan Intelegensia NTB 2021.
Pembina 2 BEM Fkes UNU NTB, Nurmaningsih menegaskan, sudah seharusnya mahasiswa dan mahasiswi mengambil peran dalam langkah perjuangan untuk menanggapi isu-isu keperempuanan serta merapatkan barisan untuk membantu para korban pelecehan dan kekerasan seksual.
Hadir juga pada acara dialog, Nurmala Fahriyanti ,M.Hi selaku Wakil Ketua Pendidikan GOW Mataram. Dia menekankan agar para perempuan terus berani mengejar impian dan tidak terbatas pada ruang dan waktu.

Acara dialog juga dihadiri Taufan, SH., MH, salah seorang dosen Fakultas Hukum Universitas Mataram yang dikenal selama ini intens menyuarakan hak-hak perempuan di NTB.
Dosen Hukum Pidana Fakultas Hukum Unram tersebut mengharapkan agar setiap elemen masyarakat mampu menghilangkan stigma negatif kepada para korban pelecehan seksual. Namun harus memberi simpati dan dukungan kepada para korban.
Taufan juga menegaskan pentingnya pengadaan ruang aman pada ranah perguruan tinggi. Hal itu, menurut dia, sesuai dengan Permendikbud bahwa setiap instansi pendidikan harus menyediakan ruang aman untuk setiap pelajar dan mahasiswanya.
Eno Liska Walini sebagai Kepala Advokasi Senyum Puan serta influencer millennial NTB yang juga hadir dalam acara dialog itu mengharapkan agar para korban pelecehan seksual tidak perlu takut untuk melaporkan ketika terkena pelecehan seksual.
“Jangan menunggu kasusnya berbulan-bulan, harus segera lapor jangan sampai membiarkan kasus itu berlarut-larut. Sebab, justru akan menghambat proses penyelidikan dan hukum,” tegas Eno Liska Walini.
Terlebih, lanjut Eno Liska, sekarang sudah ada hotline pengaduan untuk kasus pelecehan seksual dari Senyum Puan.
“Jadi untuk teman-teman yang menjadi korban pelecehan seksual bisa menghubungi hotline itu dan pasti akan kami bantu,” ucap Eno Liska Walini.

1 Komentar
Komentar ditutup.