Heatwave, Fake or Fact? (Gelombang Panas, Mitos atau fakta?)
Akhir-akhir ini masyarakat sedang dihebohkan dengan berita adanya gelombang panas yang melanda sebagian wilayah di Indonesia. Ada yang menganggap itu mitos, tetapi banyak pula yang menganggap berita tersebut benar adanya. Mari kita menelisik lebih dalam melalui data cuaca dan iklim dan pengertian dari gelombang panas itu sendiri.
Sebenarnya apa yang dimaksud dengan gelombang panas? Lalu bagaimana kondisi tersebut dapat terjadi?
Definisi Gelombang Panas
Pengertian gelombang panas atau “heatwave” berdasarkan NOAA, sebenarnya mengerucut pada suatu fenomena cuaca panas dimana kondisinya diluar dari kondisi normal (abnormal) atau bisa pula disebut sebagai anomali suhu udara ekstrim yang umumnya berlangsung lebih dari dua hari hingga beberapa minggu.
Berdasarkan World Meteorology Organization (WMO), mendefinisakan gelombang panas dengan kondisi suhu maksimum harian melebihi suhu maksimum rata-ratanya sebesar 5°C (9°F) yang berlangsung selama lima hari atau lebih secara berturut-turut. Ketentuan kondisi tersebut tidak secara mutlak dapat diterapkan di seluruh wilayah, sehingga ada pula beberapa negara yang memiliki definisi dan syarat tertentu dalam menentukan suatu kondisi cuaca disebut sebagai fenomena gelombang panas.
Dampak Gelombang Panas
Gelombang panas yang berlangsung cukup lama tidak hanya menganggu sektor ekonomi, kesehatan dan aktifitas manusia, tetapi dapat pula menyebabkan kematian. Seperti yang dilansir Britannica bahwa gelombang panas yang terjadi di India tahun 2015 menewaskan 2500 orang, di AS pada tahun 1988 menewaskan 4000 orang. Begitupula yang pernah terjadi di Eropa pada tahun 2003 lebih dari 30 ribu orang meninggal dunia. Rusia tercatat sebagai negara dengan korban meninggal karena gelombang panas paling banyak yang terjadi tahun 2010 dimana telah menewaskan 55 ribu orang.
Penyebab Gelombang Panas
Berdasarkan tinjauan cuaca dan iklim gelombang panas umumnya terjadi karena adanya faktor tekanan tinggi yang berlangsung cukup lama. Tekanan tinggi akan menyulitkan aliran massa udara masuk ke suatu wilayah. Karena pada dasarnya aliran udara bersifat seperti air bergerak dari wilayah tinggi menuju wilayah rendah, hanya saja untuk udara akan bergerak dari tekanan tinggi menuju tekanan rendah.
Wilayah tekanan tinggi akan sulit menerima aliran udara yang umumnya berguna dalam pembentukan awan dan dapat memungkinkan terjadi hujan. Dengan adanya hujan maka suhu udara akan turun dan mengurangi kondisi panas, tetapi hal tersebut sulit terjadi jika sistem tekanan tinggi yang berlangsung secara persisten dalam beberapa hari atau bahkan pekan.
Apakah seluruh wilayah di Bumi ini dapat mengalami gelombang panas?
Bumi terbagi menjadi beberapa wilayah lintang yaitu wilayah tropis, wilayah lintang menengah dan wilayah lintang tinggi. Wilayah-wilayah tersebut memiliki sistem tekanan yang umum terjadi. Wilayah tropis, termasuk Indonesia, identik dengan wilayah tekanan rendah sehingga wajar pada wilayah ini awan-awan hujan cukup intens terbentuk.
Sedangkan wilayah lintang menengah dan lintang tinggi identik dengan tekanan tinggi. Sehinga berdasarkan kondisi atmosfer tersebut, gelombang panas hanya dapat terjadi pada wilayah lintang menegah dan tinggi dan sulit terjadi di wilayah tropis (salah satunya Indonesia). Sehingga dapat dikatakan bahwa gelombang panas bukan lah sebuah mitos tetapi fakta cuaca yang memang dapat terjadi tetapi tidak dapat terjadi di seluruh wilayah di bumi.
Lalu apa penyebab kondisi panas di Indonesia?
Wilayah Indonesia yang berada pada periode awal masuknya musim kemarau menyebabkan penurunan intensitas curah hujan yang dapat memicu meningkatnya suhu udara di permukaan. Pergerakan matahari (gerak semu matahari) yang berada di BBU (belahan bumi utara) menurukan potensi pembentukan awan sehingga menyebabkan langit cerah tanpa awan yang cukup panjang. Hal itulah yang menyebabkan suhu udara di siang hari akan terasa cukup terik, panas dan menyengat. Ditambah pula untuk masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan yang padat akan polusi dan bangunan beton dan aspal, suhu udara akan terasa lebih panas.
Selain itu, jika merujuk pada syarat WMO tentang suhu udara harian, BMKG mencatat tidak adanya peningkatan suhu udara secara signifikan. Suhu udara maksimum yang tercatat pada tanggal 1 Mei hingga 7 Mei berkisar 33°C-36.1°C, dengan suhu maksimum tertinggi yaitu 36.1°C yang terjadi di wilayah Tangerang- Banten dan Kalimarau- Kalimantan Utara. Hal serupa juga terpantau di Stasiun Klimatologi Lombok Barat bahwa tidak ada anomal suhu ekstrim dan masih dalam ambang batas normal dalam lima hari terakhir. Sehingga memang gelombang panas tidak terjadi di Indonesia pun di wilayah NTB.
Kondisi suhu udara yang panas akan sangat bersinggungan dengan kondisi kelembaban. Suhu udara yang panas dengan kelembaban yang rendah akan sangat berpengaruh untuk fenomena kekeringan dan akan memperburuknya. Hal ini akan sangat merugikan bagi para petani dan dapat terancam gagal tanam ataupun gagal panen.
Berbeda halnya jika suhu udara tinggi yang diikuti dengan kelembaban tinggi. Kondisi ini akan memberikan dampak dari sisi kesehatan seperti mudah lelah dan dehidrasi akut.
Di periode saat ini, menjaga stamina tubuh agar tetap fit dan memperhatikan kecukupan cairan tubuh menjadi hal utama agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan yang berkepanjangan. Untuk masyarakat yang beraktifitas di luar ruangan, dapat pula menggunakan krim pelindung tabir surya agar terhindar dari masalah kulit karena sengatan matahari.
Gelombang panas memang sulit terjadi di Indonesia tetapi suhu udara tinggi yang umum terjadi pada saat musim kemarau tetap perlu diwaspadai namun tidak perlu khawatir berlebihan karena suhu udara meskipun terasa panas masih berada pada kondisi normalnya.
