Kebakaran Rinjani Meluas 1.098 Hektare, Jalur Pendakian Senaru dan Torean Ditutup Sementara

Keterangan foto: para petugas terus berjibaku memadamkan api di wilayah Senaru dan torean

LOTIM LOMBOKita – Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) mengonfirmasi luas areal terdampak kebakaran hutan di kawasan Resor Torean dan Senaru, Lombok, telah mencapai sekitar 1.098,75 hektare hingga Rabu (30/9) kemarin. Kebakaran permukaan tersebut melalap vegetasi cemara gunung, savana pegunungan, semak belukar, hingga dedaunan kering.

Menanggapi situasi tersebut, pihak pengelola mengambil tindakan tegas dengan menutup sementara Jalur Wisata Pendakian Senaru dan Torean guna menjamin keselamatan para wisatawan.

“Pembukaan kembali jalur tidak dilakukan hanya berdasarkan padamnya api, tetapi juga harus mempertimbangkan hasil evaluasi kondisi jalur, stabilitas medan, potensi pohon tumbang, serta material bekas terbakar,” ujar Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNGR, Astekita Ardiaristo, dalam keterangan resminya, Kamis (1/10).

Hingga saat ini, tim gabungan yang terdiri dari personel Manggala Agni BTNGR, Balai Dalkarhut Jabalnusra, MPA Sembalun, Polsek dan Koramil Bayan, hingga Tim SAR Lombok Timur masih bekerja keras di lapangan. Selain memadamkan sisa-sisa bara api di wilayah Torean, petugas juga diterjunkan untuk menilai tingkat kerusakan jalur pascakebakaran.

Upaya penanganan di lapangan diakui menghadapi hambatan cukup berat akibat faktor cuaca dan letak geografis.

“Upaya pemadaman masih menghadapi sejumlah kendala. Angin yang bertiup sangat kencang menyebabkan api dapat bergerak dan meluas dengan cepat. Vegetasi juga dalam kondisi sangat kering,” kata Astekita.

Ia menambahkan bahwa lokasi kebakaran yang berada pada medan terjal dan sulit dijangkau membuat mobilisasi personel serta logistik memakan waktu dan tenaga ekstra.

Untuk memaksimalkan operasi, petugas memanfaatkan teknologi pemantauan udara (drone) guna memetakan sebaran titik api dan menentukan prioritas pemadaman, termasuk memperkuat regu ke Bukit Setampol dan Jalur Torean.

Dengan ditutupnya Jalur Senaru terhitung sejak 26 September 2026 dan Jalur Torean hingga waktu yang belum ditentukan, BTNGR mengimbau para calon pendaki untuk melakukan penyesuaian agenda pendakian.

“Bagi calon pendaki yang telah memiliki e-ticket melalui Jalur Senaru mulai tanggal 26 September 2026, dapat melakukan penjadwalan ulang (reschedule) atau pengalihan pintu masuk dan keluar melalui Jalur Wisata Pendakian Sembalun,” jelas Astekita.

Sementara bagi pendaki yang masih berada di kawasan atas dan berencana turun lewat Senaru atau Torean, petugas mengarahkan seluruh perjalanan dialihkan melalui Jalur Sembalun.

Pihak BTNGR meminta seluruh masyarakat dan pelaku wisata untuk mematuhi aturan penutupan, tidak memicu sumber api baru, serta terus memantau pembaruan informasi resmi dari pengelola kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani.