Ketika Regulasi Menjaga Marwah Organisasi: Catatan dari Konferwil III AMSI NTB
LOMBOKita – Konferensi Wilayah (Konferwil) III Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Nusa Tenggara Barat (NTB) bukan sekadar agenda pergantian kepengurusan. Lebih dari itu, forum ini menjadi ruang untuk menguji sejauh mana organisasi profesi mampu menjaga demokrasi internal, menghormati aturan, dan memastikan setiap proses berjalan sesuai koridor yang telah disepakati bersama.
Dari proses penjaringan bakal calon, muncul dua pasangan yang siap berkompetisi, yakni pasangan Sirtupillaili-Hery Mahardika (Sirtu-Hery) dan Imran-Lalu Habib Fadli (Boim-Abi). Keduanya datang membawa gagasan dan harapan untuk membawa AMSI NTB ke arah yang lebih baik.
Namun, dalam setiap kontestasi organisasi, bukan hanya soal siapa yang menang dan siapa yang kalah. Hal yang lebih penting adalah bagaimana seluruh tahapan mampu mencerminkan kedewasaan berdemokrasi.

Salah satu dinamika yang muncul dalam Konferwil III AMSI NTB adalah terkait posisi Hery Mahardika yang sebelumnya dipercaya sebagai pimpinan sidang pleno, kemudian maju sebagai calon sekretaris bersama Sirtupillaili sebagai calon ketua.
Situasi tersebut menjadi perhatian karena dalam organisasi yang memiliki aturan baku, setiap peserta kontestasi harus memenuhi persyaratan sebagaimana tertuang dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).
Korwil AMSI Bali-Nusra yang mewakili AMSI pusat, Dr. Nengah Muliartha, menegaskan bahwa jabatan dan status keanggotaan menjadi bagian penting yang harus dipastikan agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.
Menurutnya, ketika seseorang maju dalam kontestasi organisasi, maka harus ada kejelasan posisi yang memenuhi aturan. Sebab, organisasi yang besar dibangun bukan hanya oleh figur, tetapi juga oleh kepatuhan terhadap regulasi.
Dalam konteks ini, keputusan pimpinan sidang yang akhirnya menetapkan pasangan Sirtu-Hery sebagai pemenang merupakan bagian dari proses organisasi yang telah mempertimbangkan aturan yang berlaku.

Keputusan tersebut tentu harus dihormati sebagai hasil dari mekanisme demokrasi organisasi. Sebab, sebuah organisasi tidak akan tumbuh kuat apabila setiap keputusan yang telah melalui proses resmi masih terus diperdebatkan tanpa melihat aturan main yang menjadi fondasi bersama.
AMSI sebagai organisasi perusahaan media siber memiliki tantangan besar di tengah perubahan industri media yang semakin cepat. Kehadiran teknologi kecerdasan buatan, perubahan pola konsumsi informasi masyarakat, hingga persoalan keberlanjutan bisnis media membutuhkan kepemimpinan yang solid dan mampu merangkul seluruh anggota.
Karena itu, kepengurusan baru AMSI NTB periode 2026-2030 memiliki pekerjaan besar. Kemenangan dalam forum konferwil hanyalah awal perjalanan. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana membangun kebersamaan, memperkuat profesionalisme perusahaan media, meningkatkan kualitas jurnalisme, serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi industri media digital.
Yang kalah dalam kontestasi bukan berarti kehilangan peran. Justru dari dinamika demokrasi itulah organisasi mendapatkan energi baru. Perbedaan pilihan seharusnya menjadi kekuatan untuk saling melengkapi, bukan menjadi sekat yang memisahkan.
Konferwil III AMSI NTB telah memberikan pelajaran penting bahwa organisasi yang sehat bukan organisasi tanpa perbedaan, melainkan organisasi yang mampu mengelola perbedaan dengan aturan dan semangat kebersamaan.
Kini, tantangan terbesar bagi kepengurusan Sirtupillaili-Hery Mahardika adalah membuktikan bahwa mandat yang diberikan anggota dapat diterjemahkan menjadi kerja nyata. Sebab, ukuran keberhasilan sebuah kepemimpinan bukan hanya saat terpilih, tetapi saat mampu membawa organisasi menjadi lebih maju, inklusif, dan bermanfaat bagi seluruh anggotanya.
AMSI NTB telah membuka lembaran baru. Saatnya seluruh energi diarahkan untuk memperkuat organisasi, menjaga marwah jurnalisme digital, dan menghadapi masa depan media yang penuh tantangan.
Catatan kecil
Bohari Rahman
Pemimpin Redaksi Lombokita.id
