AI Ancam Bisnis Media, Dosen Unram Ingatkan Jurnalisme Berkualitas Jadi Benteng Utama

LOMBOKita – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), khususnya generative AI, menjadi tantangan baru bagi industri media. Tidak hanya menyangkut kualitas produk jurnalistik, kehadiran AI juga menguji keberlanjutan model bisnis perusahaan media di tengah perubahan perilaku konsumsi informasi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Mataram (Unram), Aurelius RL Teluma saat menjadi pembicara pada acara FGD yang diselenggarakan AMSI NTB di Mataram, Sabtu (25/7/2026).

Menurutnya, media saat ini tidak cukup hanya menjaga kualitas jurnalistik sesuai kode etik, tetapi juga harus memastikan keberlanjutan bisnis agar mampu bertahan menghadapi perubahan teknologi.

“Model kualitas yang berkelanjutan bukan hanya kualitasnya sesuai dengan kode etik jurnalistik, tetapi bisnisnya juga harus berkelanjutan, terutama ketika berhadapan dengan kehadiran AI generatif,” ujar Aurelius.

Ia menjelaskan, kajian yang dilakukan menggunakan indikator AI Readiness Index yang dikembangkan oleh Singapore ID. Indikator tersebut mengukur tingkat kesiapan perusahaan media dalam menghadapi AI, dengan melihat aspek struktural organisasi, bukan hanya kemampuan individu dalam menggunakan teknologi.

Menurut Aurelius, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi media saat ini adalah perubahan pola masyarakat dalam mencari informasi. Kehadiran mesin pencari berbasis AI dan chatbot membuat pengguna tidak selalu mengakses langsung portal berita untuk mendapatkan informasi.

“AI dapat memberikan jawaban langsung dari berbagai sumber informasi tanpa pengguna harus kembali ke media asal. Ini menjadi tantangan karena konten jurnalistik berpotensi dimanfaatkan tanpa adanya kompensasi finansial kepada perusahaan media,” jelasnya.

Selain itu, fenomena kanibalisasi konten dan audiens juga menjadi persoalan serius bagi industri media. Teknologi AI memungkinkan informasi dari berbagai sumber dirangkum menjadi jawaban instan, sehingga berpotensi mengurangi jumlah kunjungan pembaca ke portal berita.

Aurelius juga menyoroti persoalan komodifikasi konten jurnalistik. Menurutnya, karya jurnalistik berkualitas, khususnya liputan investigasi dan liputan mendalam, menjadi nilai utama yang membedakan media profesional dengan sumber informasi lainnya.

“Liputan mendalam dan investigasi adalah emas yang harus dijaga karena menjadi nilai tawar jurnalisme. Namun persoalannya, karya yang membutuhkan biaya besar, waktu panjang, bahkan mempertaruhkan keselamatan jurnalis, dapat diambil begitu saja oleh teknologi AI,” katanya.

Ia menilai kondisi tersebut dapat memberikan tekanan ekonomi bagi perusahaan media, terutama media independen yang selama ini mengandalkan kekuatan pada kedalaman dan kualitas pemberitaan.

Dalam aspek regulasi, Aurelius menyebut masih terdapat sejumlah persoalan terkait mekanisme kerja sama antara perusahaan media dengan platform teknologi besar. Salah satunya mengenai skema kompensasi ketika konten jurnalistik digunakan oleh sistem AI.

“Bagaimana skema penghasilan ketika konten media diambil oleh AI belum dirumuskan secara jelas. Ini menjadi pekerjaan besar agar media tetap mendapatkan manfaat secara ekonomi,” ujarnya.

Selain persoalan kompensasi, ia juga menyoroti pentingnya aspek verifikasi media. Menurutnya, masih banyak perusahaan media yang belum terverifikasi oleh lembaga pers, sehingga berpotensi mengalami kesenjangan dalam mendapatkan manfaat dari kerja sama dengan platform digital.

“Banyak media yang belum terverifikasi dibandingkan yang sudah terverifikasi. Ini menjadi tantangan dalam menciptakan ekosistem media yang adil,” kata Aurelius.

Ia menambahkan, diperlukan mekanisme pengawasan independen untuk memastikan pemanfaatan konten jurnalistik oleh platform teknologi tetap berjalan secara adil dan tidak merugikan industri media.

Ke depan, Aurelius menekankan pentingnya perusahaan media memperkuat kualitas jurnalistik, melakukan inovasi bisnis, serta meningkatkan kesiapan organisasi dalam menghadapi perkembangan teknologi.

“Di tengah perkembangan AI, kredibilitas dan kepercayaan publik menjadi modal utama jurnalisme. Hal itu menjadi nilai yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh mesin,” pungkasnya.