Hati Hati. Penyebaran Penyakit Menular TBC di Lingkungan Rumah Tangga
LOTIM LOMBOKita – Masyarakat Lombok Timur diingatkan untuk menjaga penyebaran penyakit Tuberkulosis (TBC), khususnya dilingkungan keluarga, karena dinilai penyakit menular
” ketika ada warga yang terinfeksi penyakit TBC, resiko penularannya tinggi terutama lingkungan rumah tangga dan minim ventilasi” ungkap Kepala Dinas kesehatan Kabupaten Lombok Timur DR H Pathurrahman.
Karena menurut Pathurrahman.
Tuberkulosis (TBC) ini, merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang krusial.
” TBC umumnya menyerang paru-paru, tetapi juga bisa menyebar ke organ tubuh lain ” sebutnya. Dan yang mengkhawatirkan, penularannya sangat mudah, terutama di lingkungan rumah tangga.
Dan penularan penyakit TBC ini melalui udara, terutama ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara. Sehingga ketika terjadi dalam satu rumah tangga, kemungkinan besar anggota keluarga lain, berisiko terinfeksi, ketika tidak segera dilakukan pencegahan dan pengobatan
” ketika di dalam satu rumah tangga ada yang terinfeksi, untuk segera memeriksakan diri, agar tak menyebar ke keluarga lain,” katanya.
Disebutkan, langkah pencegahan TBC di rumah tangga tersebut, yaitu memastikan ventilasi rumah baik, penggunaan masker bagi penderita, tidak tidur sekamar dengan pasien yang belum diobati, serta mengikuti pengobatan TBC secara tuntas selama 6 hingga 12 bulan.
Meski demikian, melalui program Temukan, Obati Sampai Sembuh (TOSS) untuk TBC. Pemerintahp terus mendorong masyarakat untuk tidak takut memeriksakan dan mengobati diri.
“Kesadaran untuk deteksi dini, pengobatan tepat, dan pencegahan di lingkungan rumah tangga sangat penting guna memutus rantai penularan penyakit mematikan ini,” katanya, seraya mengatakan jumlah kasus TBC ditemukan hingga pertengahan tahun 2025 ini, sebanyak 900 kasus lebih.
Sehingga Pemerintah terus menggencarkan sosialisasi program Temukan, Obati Sampai Sembuh (TOSS) TBC tersebut di tengah masyarakat, seperti menggandeng kader kesehatan dan tokoh masyarakat desa, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan pelaporan kasus.
“Jika masyarakat mengalami batuk lebih dari dua minggu, apalagi disertai demam, keringat malam, dan penurunan berat badan, sebaiknya segera memeriksakan diri,” imbaunya.
