Site icon LOMBOKita

Wakil Ketua Partai Perindo NTB Desak Polisi Menangkap Boss FEC, Sekalian Mentor-mentornya!

LOMBOKita – Kasus investasi bodong FEC Shopping Indonesia (Future E-Commerce/FEC) saat ini masih jadi bahan pembicaraan hangat masyarakat. Bahkan, masyarakat terus kepoin sejauhmana penanganan kasus tersebut di Kepolisian.

Banyaknya masyarakat yang merasa tertipu investasi bodong FEC itu mengundang keprihatinan Wakil Ketua Partai Perindo Nusa Tenggara Barat (NTB), M Samsul Qomar.

Menurut Samsul Qomar, investasi FEC telah membuat resah masyarakat terutama para member baru yang belum berhasil menikmati keuntungan investasi FEC.

“Investasi FEC tidak jelas. Kita dorong aparat kepolisian segera bertindak dan menangkap Boss FEC, bahkan sekalian mentor-mentor yang telah meraup keuntungan berlimpah atas keberhasilannya menggaet member baru,” tegas Samsul Qomar ditemui di Praya, Lombok Tengah, Rabu (13/9/2023).

Samsul Qomar mengungkapkan, berdasarkan pengakuan salah seorang mentor FEC Lombok Tengah Lalu Damar Wulan, para mentor FEC adalah ibarat dosen yang memberikan bimbingan dan pembelajaran kepada para member FEC dengan imbalan gaji kisaran Rp30-40 juta per hari.

“Dari pernyataan itu saja polisi sudah cukup bukti, apalagi dia (Damar Wulan) juga menyebutkan aset-aset yang diperlolehnya sebagai dosen atau mentor tersebut, seperti ada lahan, ada mobil dan kos-kosan yang akan dijadikan sebagai homestay.

“Segala aset yang disebutkan itu adalah bukti yang harus segera disita polisi biar tidak dihilangkan sebagai barang bukti,” pungkas Samsul Qomar.

Dikatakan mantan anggota DPRD Lombok Tengah ini, pintu masuk APH sudah terbuka lebar dan harusnya sudah ada tersangka dalam kasus FEC ini.

Samsul Qomar juga merasa prihatun, lantaran member FEC yang kebanyakan masyarakat dan ASN saat ini resah investasi yang ditawarkan dan para mentor itu ternyata bodong dan tidak jelas.

“Polisi sampai saat ini belum ada tersangka, kita minta disegerakan untuk meredam kemarahan para member yang merasa ditipu oleh mentor dan aplikasi investasi online ini,” pungkas Samsul Qomar.

Terkait informasi adanya mentor yang melapor ke Bareskrim Polri sebagai member, menurut penilaian Samsul Qomar, hanyalah sebagai modus baru para mentor untuk “mencuci tangan” dan lepas dari tanggungjawab.

“Cara mereka ini kan sudah diketahui oleh polisi. Jadi percuma saja mau berusaha mengalihkan perhatian seolah-oleh menjadi korban investasi FEC,” cetus Qomar yang kini juga sebagai Ketua KONI Lombok Tengah.

“Kemarin ngaku mentor dan menerima upah puluhan juta, kok sekarang malah mengaku korban. Kan lucu ini, tapi gak bisa mereka kibulin polisi,” imbuh mantan politisi Partai Demokrat ini.

Exit mobile version