LOMBOKita – Seperti biasa, Hawking meneguk teh di sela-sela kegiatan kampus. Akan tetapi sesuatu terjadi. Gelas di tangannya tiba-tiba jatuh, sementara kedua tungkai terasa kaku, sesaat kemudian ia pun kesulitan menggerakkan kaki.
Awal yang sepintas sepele, namun pemuda tersebut terkaget-kaget mendengar vonis dokter setelah melewati berbagai pemeriksaan.
“Hidup Anda mungkin hanya tersisa dua tahun lagi.”
Ia didiagnosis menderita Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) yang menyerang sel-sel saraf motorik, sehingga penderitanya sulit bergerak dan menjadi lumpuh total.
Dunianya seolah terjerembab. Hawking, kala itu berusia 21 tahun itu sedang mengikuti program doktoral di universitas ternama, dan dikenal memiliki karier akademis cemerlang. Hal lain, Hawking sedang mempersiapkan diri memasuki jenjang pernikahan.
Masa depan yang penuh harapan, musnah dalam sekejap. Buat apa bekerja keras untuk menjadi seorang doktor jika hidupmu hanya tersisa dua tahun? Bisiknya dalam hati.
Perlu waktu untuk mengumpulkan kepingan asa yang pecah bertebaran. Setelah melewati masa penuh perenungan, Stephen Hawking meyakinkan dirinya: Dia harus melihat bintang, bukan tanah.
“Jangan pernah menyerah,” tekadnya melawan harapan yang sempat hempas.
Sekalipun diperkirakan usianya akan berakhir dua tahun mendatang, Hawking tetap menjalankan program doktoralnya sekaligus menikahi gadis yang dicintai dan ternyata tetap siap mendampingi. Pernikahan dilangsungkan, Hawking berdiri, menumpukan kekuatan pada sebuah tongkat di tangan.
Manusia boleh memvonis, bahkan dengan semua kemahiran dan ilmu pengetahuannya, tetapi tetap Allah yang menentukan. Seperti sebuah keajaiban, Hawking menikmati usia lebih panjang. Ia melewati fase dua tahun yang ditentukan.
Tujuh tahun setelahnya baru sosok penuh semangat itu mengalami kelumpuhan sepenuhnya: kehilangan kemampuan menggerakkan tangan, berjalan, bicara, dan semua motorik lain.
Kondisi yang lumpuh total tidak membuatnya menyerah. Pemuda cerdas itu tetap berkarya. Bahkan dalam kondisi yang mengenaskan secara fisik, ia sanggup menghasilkan berbagai karya fenomenal dan menyabet berderet gelar serta penghargaan.
Hawking adalah wujud keajaiban. Fenomena luar biasa. Dengan bermodalkan otot pipi, satu-satunya motorik yang tersisa, ia mengetik, berbicara, menelepon, bercanda, dan produktif menghasilkan banyak karya. Belasan penghargaan tingkat dunia diterima. Lebih dari itu ia bertahan melalui penyakitnya 50 tahun lebih dan baru wafat di usia 76 tahun.
Uniknya, hidup Hawking terhubung dengan banyak kebetulan persamaan dari para fisikawan dunia. Ia disejajarkan dengan Einstein. Ada kesamaan di antara keduanya, sama-sama tidak menonjol secara akademis ketika muda. Hawking meninggal di tanggal yang menjadi hari kelahiran Einstein.
Hal lain, Hawking lahir di tanggal 8 Januari 1942 atau tepat pada peringatan 300 tahun meninggalnya ilmuwan besar Galileo akibat dibakar hidup-hidup atas perintah gereja setempat. Ia pun menduduki posisi yang sama seperti Isaac Newton di The Royal Society. Apakah fakta-fakter tersebut murni kebetulan semata, atau Allah sedang memberi pesan tersirat?
Prestasi dan kehebatan Hawking memberinya tempat istimewa di mata jutaan orang di dunia. Kalau ada hal yang disayangkan, di antara begitu banyak pencapaian, keajaiban, dan perjuangan, Stephen Hawking tak berhasil menemukan cahaya hidayah.
Ia dengan tegas menolak eksistensi Tuhan. Menurutnya, Tuhan tidak ada hubungannya dengan keberadaan dan penciptaan alam semesta. Hawking menganggap keteraturan alam terjadi begitu saja.
Cukup mengherankan, sebab seorang arkeolog yang menemukan tanah liat berbentuk bulat rapi langsung menyimpulkan ada manusia yang membuat. Lain waktu saat menemukan pahatan berbentuk lancip spontan menyimpulkan ada manusia yang merancangnya. Lalu bagaimana mungkin seseorang bisa mengabaikan tata surya yang demikian rumit dan teratur sistemnya, tanpa ada yang menciptakan?
Hawking tidak sendiri. Terdapat cukup banyak fisikawan yang memercayai alam semesta terjadi begitu saja setelah sebuah ledakan besar, Big Bang.
Padahal justru sejak ribuan tahun lalu Allah menerangkan secara tersirat, “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS Al-Anbiya [21]:30)
Kecerdasan tak selalu berbanding lurus dengan hidayah, sebab pada akhirnya hidayah sepenuhnya milik Allah. Cahaya yang hanya mampu diterima mereka yang dipilih-Nya dan memang siap membuka hati selapang mungkin untuk menyerapnya.
Sebagai sesama hamba Allah, tentu kita berharap, di masa depan akan semakin banyak pribadi cerdas dan brilian yang sekaligus berada dalam naungan hidayah, hingga segala kelebihan yang mereka miliki, bermanfaat bagi kemaslahatannya tak hanya di dunia juga di akhirat kelak.

