Site icon LOMBOKita

Siapkan Sumur Bor di Daerah Kekeringan

Musim kemarau berkepanjangan yang dialami sejumlah daerah di Indonesia menyebabkan pasokan air bersih untuk mandi dan masak berkurang, juga mengakibatkan saluran irigasi kering sehingga mengganggu produktivitas tanaman pangan.

Sekalipun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan kemarau tahun ini tidak terlalu parah, namun antisipasi mengeringnya air bersih perlu dilakukan dengan menyiapkan sumur bor.

Bahkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan bahwa wilayah Jawa Tengah sudah masuk dalam kategori darurat bencana kekeringan pada musim kemarau tahun ini, karena hampir 22 wilayah kabupaten sudah mengalami kekeringan.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan sejumlah langkah untuk mitigasi kekeringan. Terkait dengan kondisi kekeringan, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, sejauh ini musim kemarau masih tergolong normal apalagi BMKG merilis bahwa pada awal November atau akhir Oktober 2017 akan masuk musim hujan.

Meski tergolong normal namun berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekitar 3,9 juta jiwa masyarakat membutuhkan bantuan air bersih akibat terdampak kekeringan di Jawa dan Nusa Tenggara.

Oleh karena itu, pada daerah rawan air seperti di beberapa kecamatan di Sukabumi, Sragen, Pati, Banjarnegara dan Sumbawa, Kementerian PUPR telah melakukan pengeboran air tanah untuk pemenuhan kebutuhan air minum masyarakat.

Pengeboran dilakukan setelah tim survey geolistrik mengidentifikasi sumber air tanah dalam dan dilakukan pengeboran sedalam 20-70 meter dengan debit air yang dihasilkan dari sumur bor bervariasi yakni 1,5-10 liter per detik.

Kementerian PUPR sendiri sudah melakukan mitigasi kekeringan dengan membangun sumur bor setiap tahunnya dimana saat ini total sebanyak 6.902 sumur bor di berbagai daerah di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sumur bor paling banyak terdapat di Pulau Jawa (2.916 sumur), Bali dan Nusa Tenggara (2.174 sumur).

Saat terjadi kekeringan, pemenuhan kebutuhan air bersih menjadi prioritas, baru setelah itu untuk irigasi lahan pertanian. Selain itu telah diupayakan suplai air dari waduk-waduk yang ada, misalnya Waduk Jatigede mampu mengurangi dampak kekeringan di Indramayu dan sekitarnya.

Kondisi 16 waduk utama sendiri yakni Waduk Jatiluhur, Cirata, Saguling, Kedungombo, Batutegi, Wonogiri, Wadaslintang, Sutami, Bilibili, Wanurejo, Cacaban, Selorejo, Kalola, Way Rarem, Batu Bulan, dan Ponre Ponre dalam kondisi normal sebanyak 10 waduk dan 6 waduk lainnya tinggi muka air di bawah rencana.

Demikian juga 75 waduk lainnya, kondisinya 12 waduk dalam kondisinya normal, sementara 57 waduk lainnya tinggi muka air waduk berada di bawah rencana. Enam waduk lainnya mengalami kekeringan diantaranya Plumbon dan Gebyar di Jawa Tengah.

Kondisi air waduk di bawah rencana itu apabila daya tampung air saat musim kemarau di bawah sembilan juta m3, sementara kondisi normal waduk adalah 10 juta meter kubik. Jika kapasitasnya turun kurang dari 1 juta m3 saat musim kemarau, maka kondisinya dapat dianggap masih normal.

Sebagai langkah jangka menengah dan panjang mengurangi dampak kekeringan sekaligus ketahanan air, Kementerian PUPR terus melakukan percepatan penyelesaian 30 waduk (on-going) dan membangun sembilan waduk baru tahun 2017 dan 9 waduk baru di 2018. Pada periode 2014-2019, Kementerian PUPR menargetkan 29 waduk selesai dengan volume total tampungan sebesar 1,8 miliar m3.

Selain waduk, Kementerian PUPR juga telah membangun berbagai embung dengan total jumlah saat ini mencapai 1.742 embung dengan volume tampungan 174,04 juta m3. Selain itu dilakukan rehabilitasi 15 danau prioritas.

Pada tahun 2017, Kementerian PUPR menargetkan penyelesaian pembangunan 111 embung baru yang akan menambah 719 embung yang sudah selesai dibangun dua tahun sebelumnya (2015-2016), sehingga total embung baru sebanyak 830 embung.

Siapkan Pompa Langkah lainnya sesuai instruksi Menteri Basuki kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) maupun Balai Wilayah Sungai (BWS) Ditjen Sumber Daya Air untuk menyiapkan pompa guna mengalirkan air dari sungai ke sawah petani. Total ada sebanyak 161 pompa yang disiapkan di 17 BBWS & BWS.

Para kepala balai sudah dikumpulkan oleh Dirjen Sumber Daya Air (SDA) untuk memonitor daerah masing-masing dan melakukan identifikasi. Kalau masih ada sumber air sungai yang debitnya cukup memadai, diminta segera bisa dikirimkan pompa untuk mengalirkan air ke saluran irigasi. Termasuk daerah kering yang padat penduduk untuk bisa disediakan bor dan pompa.

Kementerian PUPR juga mengimbau kepada para petani yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) untuk melakukan pola menggilir air ke daerah rawan kekeringan. Sebab kalau tidak dilakukan hal tersebut, warga akan berebut air saat terjadi kekeringan.

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui tim upaya khusus (upsus) Jawa Barat menyerahkan 20 unit pompa di Desa Lebak Anyar, Purwakarta, bagi 20 kelompok tani untuk mencegah kekeringan dan kegagalan panen.

Tim Upsus Jawa Barat Kementan yang dipimpin Banun Harpini mengatakan sawah di Desa Lebak Anyar, Kecamatan Pesawahan, Purwakarta, seluas 40 hektare tersebut sudah menghijau dan membutuhkan air sehingga diperlukan bantuan pompa.

Debit air dari sebuah pompa bantuan Kementan ini mampu mengairi sawah seluas satu hektare selama satu jam dan kondisi di desa tersebut cukup melegakan dibandingkan dengan kondisi pada lokasi lainnya yang terbilang memprihatinkan, mengingat puluhan hektare lahan sawah dibiarkan kosong akibat kekeringan.

Sebelumnya, para petani dibantu TNI mencoba menaikkan air dari kali kecil di kampung, namun hasilnya nihil. Setelah mesin pompa diutak-atik, air bisa menyembur deras hingga membuat petani lega.

Berdasarkan laporan Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) periode Januari-Agustus 2017, kekeringan tahun 2017 yang terdampak seluas 56.334 hektare dan puso 18.516 hektare. Angka ini lebih sedikit dibandingkan periode yang sama pada 2016, yakni terkena 66.922 hektare dan puso 7.265 hektare.

Kekeringan masih akan berlangsung hingga akhir Oktober 2017. BMKG telah merilis bahwa sebagian besar Pulau Jawa saat ini sedang mengalami puncak musim kemarau dan akan masuk awal musim hujan pada Oktober-November 2017.

Awal musim hujan 2017/2018 di sebagian besar daerah diperkirakan akan mulai terjadi pada akhir Oktober-November 2017 yaitu di 260 zona musim atau 76 persen wilayah Indonesia. Di sebagian besar Indonesia tersebut juga akan mengalami puncak musim hujan pada Desember 2017-Februari 2018.

Sebagian besar daerah-daerah yang terlanda kekeringan adalah daerah-daerah yang pada tahun-tahun sebelumnya juga mengalami kekeringan. Masih tingginya kerusakan lingkungan dan daerah aliran sungai menyebabkan sumber air mengering.

Pasokan air di sungai menyusut drastis selama musim kemarau. Di satu sisi kebutuhan air masih meningkat sehingga kekeringan menahun masih terjadi di wilayah tersebut.

Exit mobile version