LOMBOKita – PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Lembar, Nusa Tenggara Barat, mencatat jumlah penumpang kapal dari Pulau Lombok tujuan Bali meningkat hingga 100 persen akibat ditutupnya Bandara Internasional Lombok pada Minggu (26/11) malam.
“Jumlah penumpang yang menuju Bali mencapai 300 orang atau meningkat 100 persen dibanding keadaan normal rata-rata 150 orang,” kata Humas PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Lembar Denny Nurdiana Putra, ketika dihubungi di Mataram, Senin.
Ia mengatakan jumlah penumpang datang di Pelabuhan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, dari Pelabuhan Padang Bai di Bali, juga meningkat hingga 50 persen, yakni dari rata-rata 150 orang menjadi 225 orang.
Peningkatan jumlah penumpang dari dan menuju Pelabuhan Lembar terjadi sejak Minggu (26/11) sore hingga malam hari atau sejak diberlakukannya penutupan sementara Bandara Internasional Lombok, akibat erupsi Gunung Agung di Bali.
Sementara arus kendaraan yang datang maupun yang diberangkatkan di Pelabuhan Lembar, relatif normal. Baik, kendaraan roda dua, roda empat serta truk berukuran relatif besar.
Menurut Denny, momen peningkatan arus penumpang datang maupun berangkat tidak bisa diprediksi. Sebab, Bandara Internasional Lombok maupun Bandara Internasional Ngurah Rai, di Bali, memberlakukan sistem buka tutup.
“Kemarin Bandara Internasional Lombok ditutup, namun pagi ini sudah dibuka kembali. Sedangkan bandara di Bali ditutup pagi ini,” ujarnya.
Meskipun demikian, pihaknya sudah mengambil langkah antisipasi jika terjadi lonjakan penumpang baik yang datang maupun berangkat.
Salah satu bentuk antisipasi yang akan dilakukan jika terjadi kondisi penting adalah mempercepat waktu sandar kapal di dermaga dari biasanya 1-2 jam menjadi 45 menit. Kebijakan tersebut akan diberlakukan untuk kapal yang memberangkatkan maupun menurunkan penumpang di Pelabuhan Lembar.
Denny menyebutkan jumlah kapal ferry yang melayani rute Pelabuhan Lembar menuju Pelabuhan Padang Bai dan sebaliknya sebanyak 35 unit dengan kapasitas angkut mencapai 6.000 orang per hari pada kondisi normal. Sedangkan dalam kondisi padat bisa mengangkut hingga 8.000 orang per hari.
“Kami menerima informasi bahwa estimasi lonjakan pengungsi bisa mencapai 10.000 orang per hari. Kalau itu terjadi, kami menerapkan pola percepatan waktu sandar di dermaga,” ucapnya.
Upaya antisipasi tersebut, kata dia, sudah dikoordinasikan dengan seluruh pihak terkait, seperti Otoritas Pelabuhan Penyeberangan, syahbandar, kepolisian, instansi terkait kesehatan dan Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap).

