LOMBOKita – Hembusan “angin segar” yang datang dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) seakan berubah tangis pilu bagi kalangan honorer yang mengikuti tes PPPK formasi guru tahun 2021.
Betapa tidak, para guru honorer yang mengikuti tes PPPK tahun 2021 seakan tak berdaya karena tidak mampu melewati passing grade yang dianggap cukup tinggi.
Demikian pula dengan tingkat kesukaran soal yang cukup tinggi dan Kompetensi Teknis yang dianggap paling ribet dan bikin pusing para peserta.
“Rata-rata teman-teman peserta tes jatuhnya disitu. Bayangkan seorang guru Matematika harus menjawab dengan analisa dan dengan waktu yang sangat terbatas,” ungkap salah seorang peserta tes PPPK tahun 2021 di Lombok Tengah yang minta identitasnya tidak disebut.
Karena itu, dia berharap Kemendikbudristek perlu mempertimbangkan kembali soal-soal yang akan diberikan pada tes PPPK tahap dua nanti.
Keluhan ternyata tidak hanya datang dari peserta tes, bahkan seorang pengawas ruangan PPPK pun mengaku sangat miris melihat kondisi para tenaga honorer yang telah berjuang menyiapkan diri untuk mengikuti tes.
Pengawas ruang PPPK ini pun hingga menulis surat terbuka kepada Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Nadiem Makarim melalui akun media sosialnya yang telah dibagikan ratusan kali para warganet.
Inilah surat terbuka pengawas ruang PPPK tahun 2021 untuk Menteri Nadiem Makarim
ke halaman selanjutnya…>
Yang terhormat,
Mas menteri
Nadiem Makarim
Tak adakah rasa ngilu di dalam dada mas menteri melihat sepatu tua yang lusuh ini?
Memang benar sepatu tua ini terlihat bermerek, tetapi tahukan ini hanya sepatu loak apkiran
Tahukah Mas menteri,
Sepatu ini telah dipakai bertahun-tahun lamanya oleh si empunya
Seorang bapak dengan pakaian putih lusuh dan celana hitam yang warnanya sudah tak hitam lagi karena pudar.
Mendekati usia senja masih setia mengajari anak-anak di pelosok negeri ini membaca dan mengeja
Di saat putus pengharapan untuk mendapatkan hidup yang lebih layak. Beliau tetap semangat. Tak sekedar mengajar tetapi mendidik
Gaji di bawah lima ratus ribu sungguh tak cukup untuk makan sebulan. Apalagi untuk membeli sepatu
Terpaksa di saat pulang mengajar beliau mencari pendapatan tambahan sebagai pekerja serabutan
Tahun ini mas menteri memberikan secercah harapan untuk beliau. Program PPPK untuk memberikan harapan kehidupan yang lebih layak
Tetapi tahukah mas menteri? soal-soal yang mas menteri berikan hanya teori belaka saja. Tak sebanding dengan praktik pengabdian berpuluh-puluh tahun lamanya
Soal-soal yang membuat beliau terseok-seok ketika memegang mouse dan membuat kepalanya pening
Akhirnya, PASSING GRADE pun tak diraih. Pecahlah tangis beliau di dalam hati. Terlihat jelas ketika nilai-nilai itu terpampang di layar monitor. Beliau terdiam seribu bahasa.
Entahlah, apa yang dipikirkan. Melihatnya sayapun ikut terisak.
Memang benar beliau tak secerdas, sejenius, sekreatif mas menteri. Tetapi beliaulah yang menjadi pelita di tengah gulita buta aksara di pelosok negeri
Memang benar beliau tak pandai teknologi, tetapi tanpa teknologi beliau mampu membuat anak-anak negeri ini merangkai kata dari A hingga Z. Berhitung hal-hal dasar untuk memahami hidup
Memang benar para muridnya sebagian besar menjadi TKI dan TKW. Tapi tahukah mas menteri, bukankah mereka juga merupakan pahlawan penghasil devisa negara tercinta ini?
Beliau mempunyai andil yang besar dalam membangun negeri tercinta ini.
Sudi kiranya mas menteri memberikan keringanan untuk melihat beliau bisa menikmati masa tua dengan sepatu dan kehidupan yang layak
Tak usah diperumit
Jika tidak ada kebijakan untuk mengangkat derajat mereka, setidaknya di surga besok sepatu ini akan menjadi saksi bahwa ilmu yang beliau ajarkan sangat bermanfaat untuk keberlangsungan umat
Dari saya,
Novi Khassifa
Pengawas ruang PPPK
Ditulis dengan berurai air mata

