Site icon LOMBOKita

Pengamat: Panggung Debat Pilkada Loteng Milik “Wayent Wah”

LOMBOKita – Panggung debat publik calon Bupati/Wakil Bupati Lombok Tengah yang digelar KPUD setempat, Sabtu (7/11) malam, dianggap menjadi “milik” pasangan Ahmad Ziadi – Lalu Aswatara nomor urut 2 yang kesohor dengan jargon Wayent Wah.

Pasangan calon yang diusung Partai Demokrat dan PPP itu tidak saja mampu memaparkan konsep visi, misi, dan programnya secara konseptual dan sistematis, tapi juga piawai dalam retorika sebagai syarat dasar berkompetisi politik.

Bagi kebanyakan orang, khususnya para kandidat/calon, debat publik sering dipersepsikan sebagai momen dimana para bakal pasangan calon berhadap-hadapan mengadu visi, misi, dan program. Namun bagi Ahmad Ziadi dan Lalu Aswatara, selain memegang persepsi itu, keduanya juga berpandangan, bahwa debat publik tersebut adalah juga sarana untuk berdialog dengan masyarakat.

Wayent Wah mampu membawa suasana menjadi milik publik atau masyarakat, tidak semata-mata panggung milik para pasangan calon

“Oleh wayent wah, debat publik yang disiarkan secara langsung oleh TVRI dan siaran radio itu oleh benar-benar menjadi milik masyarakat,” kata alumni Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang, Astar Hadi, yang juga mantan Peneliti di Indomatrik (Lembaga Survei Opini Publik dan Kebijakan) Jawa Timur.

Zeinta Tour and Travel

Sementara itu, Pengamat Politik dari Universitas 45 Mataram, Dwi Hidayat memberikan penilaiannya terhadap debat yang diadakan oleh KPU tersebut. Menurut Dwi, debat berjalan cukup menarik.

“Debat tadi malam cukup menarik, berjalan seru dan cukup memberikan gambaran kita tentang gagasan paslon dalam membangun Lombok Tengah,” ucapnya.

Menurut Dwi, paslon nomor urut dua Ahmad Ziadi dan Lalu Aswatara lebih menguasai panggung dan materi, serta lebih luwes memaparkan visi misi.

“Saya melihat Ziadi-Aswatara lebih bisa menguasai panggung, Ziadi terlihat lebih luwes, enjoy dan tenang dalam menyampaikan visi misi, pun juga dengan menjawab pertanyaan yang ada,” jelasnya.

Visi dan Misi Ziadi-Aswatara, dianggap Dwi lebih visioner dan progresif untuk diterapkan di Lombok Tengah.

“Visi dan misi Ziadi-Aswatara, itu visioner, bisa menjawab ataupun memberikan solusi terkait permasalahan di Kabupaten Lombok Tengah ini. Pemikiran Ziadi sangat progresif, dan memang seperti inilah pemimpin yang dibutuhkan saat ini,” terangnya.

Dwi juga memberikan poin plus kepada paslon Ziadi-Aswatara yang mampu menjawab pertanyaan dari paslon lain, yakni Fathul-Nursiah. Menurutnya, Ziadi menjawab pertanyaan dengan brillian.

“Saya memberikan poin plus kepada Ziadi-Aswatara. Ziadi menjawab pertanyaan dari Nursiah dengan brillian. Ziadi membuat Nursiah kaku, dan bingung untuk bertanya. Nursiah menunjukkan dia tidak siap memberikan pertanyaan kepada paslon Ziadi-Aswatara,” ujarnya.

Untuk paslon lain, Dwi menilai beragam. khusus paslon nomor urut satu Lale-Sumum, dinilainya paling kurang menguasai panggung terlalu gugup, sedangkan paslon nomor empat Fathul-Nursiah bermain aman dan miskin gagasan. Sementara, nomor urut tiga Masrun-Habib cukup bagus dalam penyampaian tapi masih kalah bagus dari Ziadi-Aswatara. Selanjutnya nomor urut lima Saswadi-Dahrun, terlalu birokratis, miskin ide.

Ziadi-Aswatara adalah paslon yang diusung oleh Partai Demokrat dan PPP. Sedangkan, debat sendiri diadakan di Hotel Dmax, Desa Penujak, Lombok Tengah.

Exit mobile version