LOMBOKita – Sekali lagi penulis berani mengatakan bahwa kemenangan Zul-Rohmi tidak lepas dari kiprah TGB sebagai lokomotif dari pasangan ini.
Tentu saja ada faktor-faktor lain yang ikut membuat percepatan terangkatnya kedua pasangan, namun yang paling kasat mata adalah peran TGB yang berada di garis depan. Kenyataan ini tidak bisa dipungkiri jikalau mau menganalisisnya lebih jauh.
Dalam perjalanan sejarah dapat dilihat bahwa, kohesivitas sosial yang didasarkan pada tangkai primordial tidak dapat dibantah. Bahkan ini dikatakan sebagai faktor pertama dan yang cukup menentukan dalam mewujudkan soliditas kelompok.
Kekuatan primordial yang memang inherent dalam diri manusia sebagai individu dan sebagai bagian dari unit terkecil kesatuan social memerankan hal yang sangat kuat dalam rangka membangun eksistensi kelompok (ashabiyah). Hal ini sudah tidak diperdebatkan lagi karena telah seringkali menjadi fenomena yang tidak dapat ditolak di masyarakat.
Misalnya dalam perjalanan pasangan Zul-Rohmi seringkali dihembuskan fakta primordial, bahkan senjata ini juga dipakai oleh kalangan (tokoh) yang sudah tidak diragukan lagi intelektualitasnya sebagai panutan masyarakat.
Badai primordial yang dihembuskan menerpa pasangan, mencoba mengikis solidaritas yang hendak dibangun dalam bingkai Samawa-Sasak
Alhasil badai ini mungkin saja menusuk —nusuk masyarakat untuk kembali berfikir ulang bagi gerakannya untuk mengikuti gerbong pasangan yang mengambil jargon Lanjutkan Ikhtiar TGB. Hal ini terlihat dari menyebarnya nada-nada sumbang di masyarakat terutama di lini media sosial tentang adanya masalah-masalah itu. Dengan berbagai bahasa halus maupun satir menyayangkan akan lahirnya pemimpin dari luar sasak.
Ada juga badai yang sangat keras daya serangnya seperti isu keluarga yang tidak /kurang dapat diteladani dari kehidupan Pak Zul. Menghadapi ini Pak Zul tidak pernah hilang semangat. Ia terus berjalan dan berusaha sekuat tenaga menangkis semua isu-isu tersebut. Ini pun mereda seperti riak hujan besar berakhir gerimis lalu menghilang perlahan-lahan.
Antropologisnya belum selesai muncul juga serangan dari aspek social-politisnya dimana Sang calon Gubnernur dari pasangan ini bukan orang NTB melainkan orang Banten. Ia memang tidak dapat dibantah sebagai orang NTB, namun telah lama berkiprah di luar NTB, malang melintang bagi dapilnya yang ia perjuangkan sebagai wakil masyarakat (DPR).
Hasil dari perbincangan ini akhirnya, sebagaian beranggapan sulit bagi Pak Zulkiflimansyah untuk berduet dengan Ibu Rohmi, paling-paling ini adalah gerakan untuk pindah dapil, di mana jikalau jalannya buntu sebagai Gubernur bisa mempromosikan diri automatically sebagai calon DPR dari dapil NTB.
Berbagai serangan dan isu terus datang silih berganti menguji kesabaran dan keteguhan hati. Ibaratnya dalam pertarungan ada pukulan lalu ditangkis ataupun bertahan kemudian menyerang. Sampai waktu terus bergulir mendekatkan pada momen-momen pemilihan.
Sedangkan di sisi Ibu Rohmi sebagai calon Wakil Gubernur dihembuskannya isu gender (perempuan) sebagai sesuatu yang kurang relevan untuk dijadikan pemimpin. Lagi-lagi fakta ini mempunyai daya pukul cukup kuat bagi usaha mengokohkan pasangan agar terus berjalan mengikuti tahapan-tahapan pemilukada.
Diskusi dan diskurusus mengemuka di berbagai kesempatan tentang kontroversialnya perempuan jika harus maju menjadi pemegang kendali masyarakat banyak. Ada pro —kontra yang terus menerus direproduksi bagi menciutkan pasangan usungan Demokrat-PKS ini. Tentu saja banyak pula masyarakat yang tadinya mungkin hendak bergabung bersama duet ini kemudian balik kanan atau mundur teratur.
TGB Datang
Pada putaran-putaran sosialisasi dan kampanye terakhir TGB pun turun gunung bagi memback up pasangan calon Zul-Rohmi. Kedatangan TGB ini bak penolong yang datang sebagai tameng dan alat pemukul guna melunturkan semua serangan-serangan yang dialamatakan bagi pasangan Zul- Rohmi.
Memang dengan kekuatan dan ketokohan TGB yang akhir-akhir ini sedang naik daun di pentas nasional diyakini dapat menjadi penawar yang cukup efektif bagi mendorong pasangan ini untuk maju sebagai calon Gub dan wagub, sehingga jurus pamungkas ini pun dikeluarkan oleh tim pemenangan.
Performa TGB sebagai center of opinion bagi pasangan diyakini mempunyai daya dorong yang cukup tinggi bagi memobilisasi masyarakat NTB untuk bersama-sama mendukung Zul_rohmi. Betapa tidak TGB dilihat sebagai tokoh yang mempunyai integritas kebangsaan yang cukup handal oleh masyarakat NTB.
Kepercayaan masyarakat jelas didapatkan dari tingginya ferekuensi TGB menghadiri safari nasional yang akhir-akhir ini menyibukkan dirinya sebagai kepala daerah sekaligus sebagai ulama.
Seolah tidak ada waktu yang terbuang dalam rangka menhadiri berabgai undangan masyarakat dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia.
Bersamaaan dengan itu pengaruh ini terkirim dengan jelas dan cepat kepada masyarakat NTB mengingat hampir semua keluarga di Indonesia kini termasuk NTB mempunyai HP canggih dalam rangka secara online mengikuti perjalanan safari TGB.
Dari fenomena TGB menasional ada kekuatan atau modal sosial-politik terpancar mempengaruhi masyarakat bagi mengikuti anjuran-anjurannya. Belum lagi track record TGB sebagai Gubernur yang banyak prestasi, namun tetap secara sosiologis hadir sebagai ulama dalam periode sepuluh tahun kepemimpinannya.
Modal sosial ini sudah terlalu berlimpah bagi masyarakat NTB untuk menolak ajakan-ajakan TGB, sehingga yang tadinya ragu dengan pasangan Zul-Rohmi kemudian kembali bergabung. Masyarakat yang tadinya dikungkung oleh kekuatan primordial akhirnya meleleh, hancur tiada tersisa sehingga dihati mereka yang ada hanya ketokohan para calon pemimpin paslon itu sendiri ( Baca: Zul-Rohmi).
Memang terlalu aneh bagi masyarakat NTB untuk menafikan keunggulan-keunggulan pasangan Zul-Rohmi ini. Perpaduan dua orang politisi yang akademisi. Mereka boleh muda, namun syarat pengalaman dan kenyang makan asam garam.
Sebut saja Pak Zul, yang sudah tidak diragukan kehebatannya di mana jam terbangnya pun sangat padat tidak berjeda bagi menjalani peran dan fungsinya sebagai politisi sekaligus akademisi dengan jaringan merata di seluruh dunia.
Akibatnya pun kiprahnya tidak saja di pentas nasional, namun telah lama menembus batas-batas teritorial Negara-negara dan antar Benua. Tidak berlebihan lah kiranya TGB memberikan restu kepadanya agar sedapat mungkin apa-apa yang telah diletakkan olehnya selama sepuluh tahun dapat berkembang dan lebih maju lagi.
Sedangkan Ibu Rohmi sebagai politisi yang mempunyai pengalaman juga memimpin Istitusi Perguruan Tinggi di Lombok Timur dengan jaringan nya di seluruh Indonesia bahkan sampai Eropa. SDM-SDM ini tidak boleh diabaikan begitu saja oleh karena adanya alasan-alasan yang sudah mestinya dikuburkan karena kadaluarsa.
Misalnya alasan primordial sepertinya kurang tepat untuk dikedepankan pada konteks dewasa ini. Tidak pas lagi karena tentu ada beberapa alasan yang dapat diturunnkan seperti alasan intelektualitas dan alasan teknis lainnya.
Dapat diperlihatkan bagaimana dinamika di Negara-negara maju seperti AS di mana alasan primordial sudah tidak lagi menjadi topic menarik. Buktinya Obama yang berkulit hitam dari suku bangsa Afrika telah menjadi pemimpin dengan torehan-torehan prestasi sebagaimana yang ditorehkan ataupun dapat melampaui pemimpin lainnya yang datang dari kulit putih bersuku bangsa Eropa.
Tentu saja ini tidak dapat dibahas lebih jauh karena keterbatasan ruang lingkup dari tulisan ini sendiri, di mana hanya mau mengatakan bahwa jangan sampai ketokohan dua pasangan Zul-rohmi yang sudah mengambil batas-batas territorial ini direduksi oleh alasan-alasan murahan sehingga perlu kiranya TGB memback-up mereka agar dapat membuka mata hati masyarakat NTB .
Ujungnya hal itu pun terbukti dengan perolehan suara yang cukup signifikan bagi mengantarkan pasangan Zul-rohmi ke kursi Gubernur/wagub NTB untuk lima tahun ke depan. Tentu saja masyarakat NTB patut berbangga akan hal ini.
Selamat untuk pasangan Zul_Rohmi. Trims.

