Site icon LOMBOKita

Memanfaatkan Masa Pensiun untuk Belajar Bahasa Baru bagi Lansia

LOMBOKita – Pensiun sering dianggap sebagai kesempatan untuk memperluas cakrawala, mengembangkan minat baru, dan memperoleh keterampilan tambahan. Salah satu kegiatan yang sangat bermanfaat bagi orang lanjut usia adalah belajar bahasa asing, karena dapat membuka dunia baru dan memberikan tujuan baru dalam hidup mereka. Lebih dari itu, penelitian ilmiah selama bertahun-tahun telah menunjukkan manfaat kognitif dan sosial yang signifikan dari pembelajaran bahasa asing di usia lanjut.

Manfaat pembelajaran bahasa asing mencakup pengurangan risiko demensia, seperti Alzheimer, dan penurunan risiko kerusakan otak pada lansia dengan demensia.Berbagai penelitian secara konsisten menemukan bahwa belajar bahasa asing pada usia yang lebih tua mengurangi risiko penyakit Alzheimer dan bentuk demensia lainnya, serta dapat memperlambat kerusakan otak pada lansia yang menderita bentuk demensia. Saat ini, penelitian modern memberi kita gambaran yang lebih baik tentang caranya.

Menurut American Academy of Neurology, berbicara lebih dari satu bahasa meningkatkan jumlah jalur saraf di otak, sehingga informasi dapat diproses melalui saluran yang lebih beragam.Dalam sebuah penelitian , CT scan terhadap dua lansia kelompok dengan stadium Alzheimer yang sama, kelompok monolingual dan kelompok bilingual, mereka yang fasih dalam dua bahasa atau lebih menunjukkan kemampuan kognitif dan fungsi otak yang lebih tinggi.

Saat mempelajari bahasa asing, bagian otak seperti korteks prefrontal, yang bertanggung jawab atas pemikiran kompleks, menjadi lebih aktif terlibat. “Fungsi eksekutif” ini, demikian sebutannya, adalah bagian dari otak kita yang bertanggung jawab untuk memusatkan perhatian. Otak mereka yang berbicara lebih dari satu bahasa, dan terutama mereka yang belajar bahasa asing di usia yang lebih tua, terus-menerus menjalankan fungsi eksekutif untuk mencegah dua bahasa atau lebih saling mengganggu.

Semua latihan tersebut telah terbukti membantu orang multibahasa memproses berbagai sumber informasi dengan lebih baik, serta lebih memusatkan perhatian pada berbagai sumber. Pada dasarnya, karena orang multibahasa dipaksa untuk beralih di antara beberapa bahasa, otak mereka secara alami menjadi lebih baik dalam fokus pada banyak tugas.

Mempelajari bahasa baru membuka jalur baru di otak. Ini mendorong otak Anda untuk membuat asosiasi kata-kata asing, yang pada dasarnya memanfaatkan otak kiri dan kanan. Sama seperti bagian otak yang diaktifkan untuk meningkatkan kemampuan multitasking dan memecahkan masalah, bagian lain juga diaktifkan untuk berpikir dengan cara yang lebih kreatif. Orang yang monolingual lebih cenderung mempertimbangkan satu kata untuk menyampaikan suatu pemikiran, sedangkan orang multibahasa lebih cenderung bereksperimen dengan kata dan frasa baru untuk menyampaikan pemikiran yang sama.“Pencapaian” yang terjadi di otak orang multibahasa adalah proses yang sama yang terjadi dalam berpikir kreatif.

Manfaat belajar bahasa asing di usia lebih tua lebih dari sekadar melatih otak. Seperti mempelajari keterampilan lainnya, mempelajari bahasa baru memberikan rasa penghargaan dan meningkatkan kepercayaan diri. Pada gilirannya, hal ini cenderung memberi dorongan pada banyak lansia dalam kehidupan sosial mereka. Ditambah lagi, proses belajar bahasa baru memberikan banyak kesempatan untuk bersosialisasi. Mengambil kelas dengan orang-orang yang berpikiran sama dan berlatih bahasa yang baru dipelajari dengan penutur asli adalah cara terbaik untuk menjadi fasih – dan sekaligus menjalin pertemanan.

Belajar bahasa baru di masa pensiun tidak hanya memberikan keuntungan kognitif seperti mengurangi risiko demensia, meningkatkan memori, dan kemampuan multitask, tetapi juga merangsang kreativitas. Selain itu, aktivitas ini membuka peluang untuk sosialisasi, meningkatkan kepercayaan diri, dan memberi pengalaman yang memuaskan bagi lansia.

Tugas Akhir Mata Kuliah Psycholinguistics
Dosen Pengampu Mata Kuliah: M. Rajabul Gufron, S.Pd., M.A.

Exit mobile version