LOMBOKita – Dinas Perdagangan Provinsi Nusa Tenggara Barat menyebutkan stok sembilan bahan pokok di daerah ini aman hingga enam bulan ke depan.
“Informasi dari Bulog, saat ini ada stok beras sekitar 50 ribu ton dan diprediksi cukup hingga enam bulan ke depan. Jadi masyarakat jangan panik akan kekurangan bahan pokok untuk menyambut tiga perayaan besar pada akhir tahun ini,” kata Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Nusa Tenggara Barat Hj Putu Selly Andayani di Mataram, Rabu.
Selain beras, stok kebutuhan pokok seperti gula, tepung, minyak goreng, telur, dan lainnya pada tingkat distributor juga relatif aman dengan harga stabil.
Kendati demikian pihaknya tetap akan melakukan inspeksi mendadak (sidak) secara berkala ke sejumlah gudang distributor maupun lokasi bongkar muat barang.
Tujuannya untuk menjamin bahwa data stok aman yang diberikan benar-benar riil serta menghindari adanya permainan harga saat permintaan meningkat.
“Kita akui, meskipun sudah kita awasi kenaikan harga saat Maulid Nabi Muhammad SAW, Natal dan tahun baru tidak bisa dihindari, tapi kenaikannya masih wajar,” katanya.
Apalagi, perayaan maulid di daerah ini dilaksanakan selama satu bulan penuh, dengan berbagai aktivitas berbeda namun dirayakan dengan acara selamatan atau “roah” dan makan-makan dalam porsi besar.
Selly yang ditemui ketika melakukan kunjungan ke Pasar Mandalika mengatakan, untuk menghindari adanya kenaikan harga signifikan masyarakat harus menjadi konsumen yang cerdas.
Konsumen cerdas yang dimaksudkannya adalah masyarakat harus pandai menyesuaikan kebutuhan dengan kemampuan keuangan. Apabila harga tinggi, masyarakat jangan beli banyak tapi sesuai kebutuhan.
“Intinya, masyarakat jangan panik karena stok bahan pokok sudah dijamin tersedia hingga enam bulan ke depan, kepanikan masyarakat bisa memicu kenaikan harga lebih tinggi lagi,” katanya.
Lebih jauh ia mengatakan, inflasi yang saat ini terjadi sebesar 0,06 persen didominasi transportasi udara. Artinya, masyarakat lebih banyak melakukan perjalanan, bukan berbelanja karena mereka membeli sesuai kebutuhan.
“Tapi ketika masyarakat sudah membeli sesuai kebutuhan, dan saat mencari bahan pokok di pasar tidak tersedia, itu mengindikasikan adanya penimbunan. Di sinilah pentingnya pengawasan,” ujarnya.

