LOMBOKita – Dinas Pariwisata Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengimbau para pelaku pariwisata tidak memanfaatkan bencana erupsi Gunung Agung dengan menaikkan tarif pelayanan.
“Pelaku pariwisata jangan sampai ‘aji mumpung’ memanfaatkan kondisi bencana erupsi Gunung Agung dan menaikkan tarif pelayanan,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram H Abdul Latif Nadjib di Mataram, Rabu.
Sebaliknya, lanjut Kadispar, para pelaku pariwisata memiliki rasa simpati dan prihatin terhadap bencana erupsi Gunung Agung yang mengakibatkan jalur transportasi udara ditutup.
Dengan demikian, sejumlah wisatawan yang harusnya sudah kembali atau melanjutkan program wisatanya ke daerah lain tertunda dan terpaksa harus tinggal lebih lama di Mataram.
“Karena itu, kondisi ini jangan sampai salah dimanfaatkan oleh pada pelaku pariwisata, sebab mereka sebenarnya juga dalam kondisi sulit,” katanya.
Terkait dengan itu, jika pelaku pariwisata tidak bisa memberikan diskon kepada para wisatawan yang menunda meninggalkan daerah ini karena kondisi cuaca, minimal bisa diberikan pelayanan terbaik.
“Tujuanya, agar mereka bisa tetap tenang dan nyaman selama berada di kota ini. Apalagi, jika tamu itu adalah mereka yang mengungsi akibat erupsi Gunung Agung,” katanya.
Menurut Latif, informasi yang diterima dari Asosiasi Hotel Mataram menyebutkan, sejak erupsi Gunung Agung terjadi, huninan hotel disebut mengalami meningkat.
“Tapi persentasenya belum kita evaluasi, dan peningkatan itu terjadi apakah karena eksodus dari Bali atau mereka yang menambah tinggal dikarenakan adanya penutupan operasional bandara,” katanya.
Di sisi lain, Dinas Pariwisata Kota Mataram juga mengajak pelaku pariwisata berpartisipasi dalam penanganan bencana di Kota Mataram.
Partisipasi itu misalnya ketika terjadi pohon tumbang di depan tempat usaha mereka, petugasnya harus bisa bertindak sigap tanpa menunggu petugas pemerintah datang melakukan penanganan.
Begitu juga jika terjadi banjir akibat luapan saluran di depan tempat usaha mereka, pelaku pariwisata harus bisa mengambil bagian tanpa mengandalkan petugas dari pemerintah.
“Petugas pemerintah kota pastinya siap datang melakukan penanganan setelah ada laporan, tapi sebelum datang pelaku pariwisata diharapkan dapat mengambil peran terlebih dahulu untuk menghindari terjadinya bencana lebih besar,” katanya.

