LOMBOKita – Dua bulan terakhir, Indonesia mengalami kelangkaan garam. Namun, kelangkaan garam ini membawa berkah bagi petani garam atau produsen yang berada di pesisir pantai. Kelangkaan garam ini menguntungkan bagi mereka karena harga komoditas itu naik berlipat ganda.
Sebaliknya, pengrajin ikan asin atau pemilik warung makan terkena dampak kelangkaan stok garam. Sudah harganya naik, sulit pula memperolehnya. Bahkan, bagi pengrajin ikan asin, terpaksa harus mengurangi jumlah pekerjaanya karena kesulitan mendapatkan garam.
Beda dengan petani garam di kawasan pantai Desa Sawojajar, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Kelangkaan garam ini membawa berkah bagi mereka karena harga garam semula Rp500,00 per kilogram, kini naik hingga Rp4.000,00/kg.
Tidak mengherankan bila sejumlah nelayan Sawojajar beralih mata pencaharian. Semula mereka mencari ikan di laut, kini menjadi petani garam. Mereka mengaku “kecipratan” terhadap kenaikan harga garam tersebut.
Para nelayan bersyukur terhadap kenaikan harga garam hingga mencapai Rp4.000,00/kg meski kemungkinan harga bahan bumbu berasa asin itu akan segera stabil kembali, kata petani garam Desa Sawojajar Kecamatan Wanasari, Dastam (52).
Para nelayan kini banting setir menjadi petani garam karena pendapatan yang mereka terima kini lebih menjanjikan seiring dengan melonjaknya harga kelengkapan bumbu dapur tersebut.
Yah, daripada mencari ikan di laut, saat ini bekerja sebagai petani garam lebih menjanjikan dan menguntungkan karena harga bahan baku bumbu dapur itu cukup tinggi
Ia mengatakan bahwa penaikan harga garam hingga Rp4.000,00/kg setidaknya bisa membantu petani garam untuk mencukupi kebutuhannya.
Sebelumnya, bekerja mengolah penggaraman hanya sebagai pekerjaan sampingan. Sebagian besar di antara mereka lebih memilih mencari ikan di laut. Akan tetapi, sekarang ini mereka sementara banting setir menjadi petani garam.
Menurut dia, dengan lahan seluas 1 hektare, petani bisa memanen 5 ton garam. Dengan demikian, pendapatan mereka jauh lebih tinggi daripada mencari ikan di laut.
Jika musim dan berangin seperti sekarang ini, ikan besar di pinggiran (laut) tidak ada. Boleh dikatakan air laut sedang dingin sehingga nelayan kesulitan menangkap ikan di pinggiran. Tidak pelak, kata dia, hampir sebagian besar nelayan beralih pekerjaan menjadi petani garam.
Ia mengatakan bahwa petani garam akan kembali beralih menjadi nelayan rajungan pada saat memasuki musim hujan.
“Ya, lumayan Mas, kini kami menikmati adanya kenaikan harga garam itu meski itu sifatnya sesaat karena kemungkinan harga garam akan stabil setelah pemerintah mengimpor garam,” katanya.
Petani garam hanya berharap pada pemerintah harga komoditas berasa asin ini tidak turun drastis seperti harga sebelumnya Rp500,00/kg.
“Jika turun, kami berharap pada pemerintah harga garam masih bisa memperhatikan kepentingan petani garam. Boleh, sih, turun tetapi jangan sampai merugikan petani garam,” katanya.
Petani garam Nur Samadikun (55) mengatakan bahwa pembuatan garam itu lebih mudah, yaitu pertama menampung air laut sekitar sepekan pada petak penampungan hingga terjadi perubahan kondisi air.
Air tampungan dialirkan ke petak lain untuk kristalisasi. Satu petak lahan garam bisa dipanen berulang kali. Setiap satu pekan, petani garam dapat memanen garam hingga 10 petak pada lahan sekitar 1 hektare.

